Selepas "kursus bulanan" itu, ia pun datang ke kediaman gurunya di Pancor Lombok Timur. Ia me-nyampaikan amanat yang diterimanya dahulu dari laki-laki yang mengajarnya. Pesan laki-laki itu: "kembalikan foto ini kepada saya setelah tiga bulan". Sesampainya di al-Abrar, ia tercengang. Disaksikannya lautan putih dan putih dalam balutan gamis dan kain yakni mahasiswa MDQH yang sedang belajar. Ia ragu mematung di depan mushalla itu. Ia canggung dengan balutan jeans dan kaos oblong yang dikenakannya.
Tepat di depan pintu rumah gurunya itu, ia pun tertegun. Wajah lelaki yang mengajarnya dalam rupa waktu dan tempat yang tidak bisa dinarasikan kata dan nalar itu ternyata persis seperti apa yang disaksikannya kini. Ia menyaksikan lelaki itu ternyata sesuai dengan lelaki yang mengajarnya. Ia awalnya juga sangsi bahwa apakah ia akan dikenal atau mungkin saja tetap dikenal namun tidak akan diterima. Ia ragu pada penampilan-nya yang jauh dari kesan santri seorang wali.
Senyum sapa sang Guru yang tak lain adalah Maulana al-Syaikh membuat ia takluk. Ia pun disapa dengan canda layaknya persuaan demi persuaan berbulan-bulan sebelumnya. "Hei, kamu jangan nakal, sini masuk, kamu diam sini, kamu belajar di sini", sapa Maulana seperti dituturkannya. Soedarmaji kemudian tinggal belajar menjadi murid di alam zahir selama beberapa minggu. Ia membandingkan sendiri gurunya di alam yang dia sendiri tidak mampu melukisnya dan di alam yang dapat dihadiri oleh ribuan manusia.
Ia bercerita bahwa di rumah gurunya tidak ada yang serius dikerjakannya. Disana ia tidak "serius" mengaji tetapi banyak diajak bercanda oleh gurunya. Disitulah kemudian ia mendapatkan stempel kemuridan. "Sini kamu saya stempel lidahmu", kata Maulana. Lidahnya ditulis oleh Maulana al-Syaikh dengan tulisan yang tidak dimengertinya. Setelah tulisan itulah ia dengan leluasa menyampaikan pesan-pesan agama bahkan dengan spontan dapat menyampaikan dalil dari nash Quran dan Hadits sesuai keperluannya.
Sepulang dari belajarnya itu, ia pun memantapkan dirinya untuk meninggalkan dunia angin yang mendera indah dalam pesona matahari di buritan kapal. Dia tinggalkan kehidupan glamor dengan makanan dan minuman yang melenakan. Ia sudahi berhubungan dengan sekian jenis perilaku tak terpuji di hadapan tuhan. Langit masih menyisakan daratan tempat menambatkan iman dan kuasa Allah yang memper-temukan ia dengan raja wali dari Lombok Anfanan.
Lelaki eks-Katolik itu akhirnya memilih jalan dakwah dibandingkan menjadi penginjil. Ia menjadi pendakwah alih-alih menjadi pengkhutbah seperti Mati-us dan Lukas. Logika dan nalar keislamannya mengalir seolah pernah belajar agama dalam waktu yang lama. Ayat dan Hadits dituturnya seolah ia pernah mengkaji tafsir hadits dalam waktu yang lama pula. Ia tuturkan bahwa ia memiliki jamaah dari kalangan jetset dan mampu menyadarkan ratusan orang dari keterpurukan iman dan meraihnya dari perilaku keterpurukan.
Ia menjadi konsultan iman bagi ratusan pimpinan perusahaan, ia menjadi kiyai di gedung-gedung kantor bahkan pejabat tinggi. Ia mampu mengislamkan ratusan orang terutama keluarga besarnya. Ia menuturkan bahwa lingkungan kristiani di kampungnya telah berubah menjadi keluarga muslim setelah sebelumnya ia dianggap gila dan terkucilkan.
Banyak keajaiban demi keajaiban muncul saat Maulana hilang dari pelupuk mata. Maulana tidak lagi hadir sebagai sosok yang telah mengajarkan secara lahiriah tetapi juga ternyata Maulana lebih dari sekadar yang dikenalkan sejarah manusia biasa. Maulana al-Syaikh tutup usia dalam dimensi waktu duniawi namun masih tetap hadir mengajar para muridnya.
Maulana masih mengajar saat ini. Maulana masih hayat, hayat ma’rifat. Hayat tanpa dimensi ruang dan waktu duniawi. Waktu dan tempat tanpa dimensi itu dibuktikan oleh Soedarmaji. Malam itu ia juga bercerita bahwa sampai saat ini Maulana masih kerap datang mengajarnya. Soedarmaji masih dapat belajar pra dan pasca Maulana wafat ma’rifat. Soedarmaji hanya satu dari sekian murid misterius yang telah mendapat pendidikan langsung dari Maulana baik saat beliau hayat maupun setelah wafat.
Ini adalah cermin yang menggambarkan bahwa Maulana al-Syaikh bukan manusia biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru orang Pancor, bukan pula tuan guru yang paling alim di Lombok. Maulana al-Syaikh bukan ulama biasa bukan pula pendidik biasa. Soedarmaji telah membuktikan itu dan bukti pendidikan istimewa yang telah diraihnya. Ia menyatakan – secara tidak langsung - kedatangannya ke Majlis bersama Ummi sore itu adalah penjelasan yang sharih atau jelas dan terang bahwa Maulana al-Syaikh adalah guru yang tidak dapat digambarkan dengan nalar cendekia.
Majlis merenung bahwa gelisah hati Soedarmaji dalam kecintaan mendalam terhadap istrinya tampak-nya dirasakan oleh seorang sosok agung dari Lombok ketika melintas di langit Jawa. Upaya pantang menyerah untuk mengobati sakit yang diderita kekasihnya itu tampaknya jelas diketahui oleh Maulana al-Syaikh. Lewat alam kewalian dan hadir secara badaniah itu pula Maulana al-Syaikh datang ke altar gereja menemui Soe dan menitipkan obat bagi istrinya. "Shalat-shalat-shalat".
Jika saja hanya sebatas membantu Soe menepis gundah dan rasa bersalah pada istrinya, maka mengapa Maulana al-Syaikh kemudian harus datang mengajar-nya. Mengapa Maulana al-Syaikh menyempatkan diri mengajar lelaki petualang itu dalam kondisi iman islami belum lagi dirasukkan ke jiwanya.
Mengapa pula Maulana al-Syaikh berkenan meraih tangan lelaki Katolik yang liar itu untuk kemudian diterimanya menjadi murid "simpanan"? Biarlah sudah tak usah dijawab teka-teki itu karena jelas Sang Maha Kuasa ingin menunjukkan kuasanya. Kuasa yang men-dera air mata. Kuasa yang tak pantas didekati dengan logika. Semua tentu di luar batas logika jauh dari wilayah nalar kita.
La haula wal quwwata illa billah.
Majlis juga merenungkan cerita Soe bahwa dia diajar oleh Maulana al-Syaikh di kampungnya dengan cara yang ia sendiri mengetahuinya mungkin bisa diletakkan sebagai perkara yang tidaklah terlampau aneh. Hal ini karena dalam banyak kasus para penuntut ilmu yang shalih kadang diajarkan oleh ulama atau wali dengan cara yang tidak dapat digambarkan sebagai pembelajaran duniawi.
Setelah caturwulan pertama dilaluinya ia diundang datang untuk melanjutkan pendidikannya di alam lahiriah. Ya, ia datang belajar langsung pada gurunya di al-Abrar untuk menjadikan dalil bahwa persuaan tiga bulan yang komplit memang nyata adanya. Kehadiran Maulana mengajarnya di Surabaya memang terjadi dan bukan mimpi. Maulana al-Syaikh sendiri yang menyapa-nya pertama kali saat datang itu sebagai pengakuan bahwa Maulana al-Syaikh memang gurunya yang selama tiga bulan lalu datang padanya. Inilah bukti bahwa Maulana al-Syaikh jelas dan zahir datang secara badaniah ke rumah Soedarmaji.
Hampir tidak dijumpai dalam sejarah orang yang diajar oleh seorang wali secara gaib pada saat sang wali masih hayat, lalu diundang datang untuk belajar secara nyata di alam zahir, lalu setelah wafatnya masih terus menerus diajar. Pengajarnya itu siapa? Kelas manusia apa? Dan ini nyata. Karamah seorang wali yang tiada putusnya, terasa dalam masa yang tak berdimensi meski setelah tak di dunia lagi.
Sahabat, seperti pengakuannya ia bukan orang baik-baik. Ia penganut Katolik. Ia terbiasa dalam kehidupan yang tak biasa. Lalu .... mengapa ia menjadi siswa khusus seorang waliyullah agung sekelas Maulana al-Syaikh. Jawabnya, itulah kuasa hidayah. Itulah kuasa kehendak. Ia bukan murid, namun murad. Ia bukan orang Nahdlatul Wathan namun yang jelas ia dijadikan santri oleh pemilik Nahdlatul Wathan. Ia dikehendaki untuk menjadi.
Soe adalah murid yang mendapat hikmah dari seorang ahli hikmah. Lalu atas kehendaknya ia datang kepada Ummi untuk menceritakan kebesaran Sang Ahli Hikmah, yang tak lain adalah al-Magfurulah.
Apa yang dapat disembunyikan jika Allah menghendaki.
Apa yang bisa dinafikan jika Ia menghendaki
Apa yang tidak bisa dengan kehendak-Nya
Apa yang tak bisa
Apa?
****
Cuplikan dari buku Karamah Cinta Maulana
Dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis: Muhammad Thohri, Lalu Muhyi Abidin, Khairi Yasri, Fahrurrozi, Zakaria, Zainuddin, Lalu Mustajab, Lalu Fauzi Hariadi, Nurkholis Muslim, Hurnawijaya Muhtamin, M. Gufran Haramain, Nurul Muttaqin
Laman
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 April 2017
Rabu, 01 Oktober 2014
Kamis, 03 April 2014
Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan
THARIQAH HIZIB NAHDLATUL WATHAN
A. Arti Thariqah dan Tujuan Pengamalannya
Secara
etimologi tharqah berarti jalan menuju hakikat. Dengan kata lain
mengamalan syari’at. Sehingga secara terminologi, Muhammad Anin al-Kurdi
mengajukan tiga definisi, Yakni:
- Megamalkan syari’at, melaksanakan seluruh ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah (menggampangkan) ibadah yang sesungguhnya tidak boleh di permudah.
- Menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Allah sesuai dengan kesanggupannya, baik perintah dan larangan tersebut bersifat jelas maupun tidak (batin).
- Meninggalkan segala yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal yang mubah (yang mengandung fadhilah), menunaikan segala yang diwajibkan dan disunnatkan sesuai dengan kesanggupannya dibawah bimbingan seseorang mursyid dari sufi yang mencita-citakan suatu tujuan.
Thariqat
sebagaimana yang berkembang dikalangan ahli tasawuf, ialah jalan atau
petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang
dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, dan dikerjakan oleh
sahabat-sahabatnya, tabi’in-tabi’in turun temurun sampai kepada
guru-guru atau ulama-ulama yang sambung menyambung dan rantai berantai
sampai pada masa kita ini.
Sementara
menurut L. Massignon, seorang islamiisis yang pernah mengadakan
penelitian terhadap ajaran tasauf di beberapa negara Islam, sebagaimana
dikutip oleh Mahjuddin, memberikan dua macam pengertian thariqah.
Pertama, thariqah diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf, untuk
mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut al-maqamat dan
al-ahwal . Pengertian seperti ini menonjol pada paruh abad IX dan X
Masehi. Kedua, thariqah diatrikan ssebagai sebuah perkumpulan yang
didirikan menurut aturan-aturan yang ditetapkan oleh syeikh yang
menganut suatu aliran thariqah tertentu. Dalam perkumpulan tersebut,
seorang syeikh mengajarkan ilmu tasawuf menurut aliran thariqah yang
dianutnya, kemudian diamalkan secara bersama-sama dengan murid-muridnya.
Pengertian seperti ini menonjol setelah abad IX Masehi.
Adapun tujuan pengamalan thareqah, antara lain:
- Untuk mengadakan latihan jiwa (riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji melalui perbaikan budi pekerti.
- Untuk menumbuhkan rasa dekat kepada Allah swt melalui wirid dan zikir yang dibarengi dengan tafakkur.
- Menumbuhkan perasaan takut kepada Allah sehingga timbul dalam diri seseorang untuk berusaha menghindari diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lalai kepada-Nya.
- Untuk mencari ridha Allah semata, sehingga ia mencapai suatu tingkatan (maqam) ma’rifat, yang dapat mengetahui segala rahasia Allah dan Rasul-Nya secara jelas.
B. Sejarah Lahirnya Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan
Al-Gozali
dan Ibn al-Arabi membagi empat tahap yang harus dimulai oleh seseorang
yang menjalani ajaran tasawuf untuk mencapai tujuan yang dikenal sebagai
al-saadah (kebahagiaan) atau al-insan al-kamil (manussia paripurna).
Keempat tahapan itu, terdiri dari syari’at, thariqah, haqiqat, dan
ma’rifat. Berkaitan dengan ini Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Majid mengatakan bahwa syari’at itu merupakan uraian, thariqah
merupakan pelaksanaan, haqiqat merupakan keadaan dan ma’rifat merupakan
tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya. Ia juga
menganalogikan syari’at itu sebagai sebuah sampan (perahu), thariqah itu
adalah lautan, haqiqat itu adalah mutiara. Orang tidak akan mendapatkan
mutiara kecuali melewati lautan denggan menggunakan sampan.
Lebih
lanjut dalam ajaran tasawufnya ia tidak memisahkan diametral antara
fiqh dan tasawu. Dalam konteks ini ia sering mengungkapkan argumentasi
dengan mengutip pandangan Anas Ibn Malik yang mengatakan:
“Barang
siapa yang melaksanakan Fiqh saja tanpa dibarengi dengan pelaksanaan
tasawuf, maka ia temasuk golongan orang-orang fasiq, dan barang siapa
yang hanya melaksanakan tasawuf saja, tanpa melaksanakan fiqh, maka ia
termasuk golongan orang-orang zindik, sementara barang siapa yang
mengerjakan keduanya secara sinergis, maka ia termasuk orang-orang yang
telaah mencapai drajat haqiqat”.
Berkaitan
dengan ajaran untuk mensinerrgikan antara syariat dengan hhaqiqat di
atas, ia menulis dalam bait-bait syairnya sebagai berikut:
Wahai anakku jamaah thariqat
Janganlah lupa pada syariat
Ingatlah selalu kandungan baiat
Mudahan selamat dunia akhirat
Banyak sekali membisikkan hakikat
Padahal mereka buta syariat
Sehingga awam banyak terpikat
Menjadi zindik menjadi sesat
Selanjutnya
beranggkat dari pemikiran ini, ia ingin membentuk sebuah thariqat
Nahdlatul Wathan sebagai media untuk mensinergikan aspek syariat dan
thariqat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Proses
kelahiran Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan adalah ketika Tuan Guru Kiyai
Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menunaikan ibadah haji, saat ia
tengah beribadah di Masjid Nabawi di Madinah, ia didatangi seorang yang
kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir as dan ia menyampaikan salam dari
Nabi Ibrahim yang menyatakan, “bahwa Nahdlatul Wathan akan menjadi
organisasi yang lengkap dan sempurna, apabila sudah memiliki thariqat.”
Berdasarkan pengalaman spiritual ini, maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Majid mendirikan tariqat yang kemudian dinamakan dengan
Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan pada tahun 1964.
Penamaan
thariqat ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk melengkapi Hizib
Nahdlatul Wathan, sehingga thariqat ini merupakan intisari sari Hizib
Nahdlatul Wathan.
Disamping
dari pengalaman spiritual diatas, kelahiran thariqat ini juga diilhami
oleh maraknya aliran-aliran thariqat yang dianggap sesat, karena
meninggalkan ajaran-ajaran syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan
ibadah-ibadah lainnya.
Thariqat sesat ini olehnya disebut sebagai “thariqat syetan”, sebagaimana dikemukakan dalam syairnya:
Thariqat hizib harus berjalan
Bersama thariqat yang murni haluan
Membenteng syariat membentang iman
Menendang ajaran thariqat syetan
Selanjutnya
keberadaan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini juga sebagai respon
terhadap praktek pengalaman thariqat-thariqat selama ini, seperti
thariqat Qadariyah dan Naqsyabandiyah di lombok yang terkesan terlalu
berat dan memiliki persyaratan yang begitu ketat. Apalagi jika
ditambahkan dengan kewajiban ‘uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk
kehidupan dunia pada waktu tertentu. Sekalipun ‘uzlah ini juga tidak di
larang dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, sehingga pada umumnya
masyarkat merasa enggan untuk mengikutinya. Berdasarkan kondisi ini,
maka Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menyusun
Thrariqat Hizib Nahdlatul Wathan secara ringkas dan praktis, tampa
mengesampingkan makna esoteriknya (batinnya). Thariqat ini dapat
diamalkan oleh setiap orang dalam kondisi apapun, baik pada waktu
khusus, maupun pada waktu melaksanakan berbagai macam aktifitas
keseharian.
Bacaan
yang diamalkan dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan terdiri dari
ayat-ayat al-Qur’an, shalawat, do’a-do’a mu’tabar dari Rasulullah saw,
para ulama dan auliya’. Prosesi ini tidak membutuhkan waktu yang panjang
dibandingkan thariqat-thariqat yang lainnya.
Disamping
bacaannya yang simpel, thariqat ini juga memiliki syarat san ketentuan
yang ringan dan fleksibel bagi seseorang yang ingin mengamalkannya,
sehingga thariqat ini dimungkinkan untuk diamalkan dan diataptasi dalam
konteks modern, yang biasanya ditandai dengan sifat fleksibel, simpel
dan efesieni. Oleh karena thariqat ini dapat merespon tuntunan
masyarakat modern, maka thariqat ini juga dinamakan thariqat Akhir
Zaman. Berkaitan dengan ini, ia mengisyaratkan dalam bait syairnya:
Thariqat Hizib thariqat terakhir
Dengan bisyarah “Al-Basyirunnadzir”
Kepada Bermi Al-Faqir Al-Haqir
Dan ditaukidkan oleh Al-Khidir
Di
sisi lain terdapat sisi-sisi kesamaan antara Thariqat Hizib Nahdlatul
Wathan dengan konsepsi tasawuf modern yang dipelopori oleh Ibn Taimiyah.
Menurut Nurkholis Majid, “Tasawuf modern adalah sebuah penghayatan
keagamaan batini yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam
maslah-masalah kemasyarakatan”. Sesekali menyingkirkan diri (‘uzlah)
mungkin ada baiknya, jika hal itu dilakukan untuk menyegarkan kembali
wawasan dan meneruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak
dalam pelibatan diri dalam aktifitas yang lebih segar.
Kelonggaran-kelonggaran dalam pengalaman Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan
dimaksudkan agar orang dapat senantiasa melibatkan diri dalam berbagai
tugas kemasyarakatan. Sedangkan tidak adanya ber’uzlah dalam Thariqat
Hizib Nahdlatul Wathan menandakan kebolehan untuk dilakukan
sewaktu-waktu bila dianggap perlu. Dan ini berarti Thariqat Hizib
Nahdlatul Wathan, walaupun perlu ditelusuri lebih jauh lagi, tapi bisa
dipandang sebagai thariqat modern.
Praktisnya
cara pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, bisa dijadikan
alternatif berthariqat dalam kehidupan modern dewasa ini. Dengan
Thariqat Hizib Nahdlatul Watan, sekarang dapat melaksanakan tugas-tugas
kesehariannya tanpa ketinggalan akan kepuasan rohaniahnya. Dan
sebaliknya, seorang dapat hidup damai secara batiniah dalam suasana
kedekatan kepada Allah SWT tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan
dunia.
Kenyataan
tersebut ternyata lebih menarik minat berbagai kalangan untuk menerima
ijazah Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, mulai dari petani, nelayan,
pedagang, hingga kalangan profesional yang telah bersentuhan dengan
teknonolgi modern. Ini adalah kesimpulan yang Abdul Aziz, seorang
peneliti Litbang Depag RI yang mengatakan, bahwa Thariqat Hizib
Nahdlatul Wathan mampu menghilangkan perbedaan antara orang tradisional
dengan orang modern dalam Islam.
Adapun syarat keanggotaan thariqat ini adalah sebagai berikut:
- Ketaatan kepada pimpinan (mursyid) thariqat, yaitu Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, atau yang ditunjuknya.
- Mengamalkan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan setiap selesai shalat lima waktu.
- Bersedia membantu perjuangan Nahdlatul Wathan
- Membayar uang shalawat.
Sementara
ketentuan ijazah dan bai’at dalam penerimaan thariqat ini adalah
merupakan “aqad” sebagai syarat sah mengamalkannya. Ijazah dan bai’at
diberikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
sendiri, atau oleh wakilnya yang ditunjuk secara resmi, yaitu salah
seorang muridnya yang bernama Haji Muksin Makbul.
Thariqat
Hizib Nahdlatul Wathan juga tidak mengenal hirarki kepemimpinan yang
ketat. Namun demikian, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul
Majid memberi izin kepada seorang muridnya yang paling dipercaya untuk
mengijazahkan dan membai’at caloon anggota thariqat, yaitu Haji Muksin
Makbul.
Selanjutnya
dalam perkembangannya dewasa ini, Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang
berada dibawah pimpinan Haji Muksin Makbul ini terus mengalami
perkembangan di berbagai pelosok tanah air dan beberapa tenmpat di luar
negri seiring dengan perkembangan Organisasi Nahdlatul Wathan, seperti
di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan,
DKI Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bogor, Riau, Batam, Malaysia.
C. Proses Pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan
Dalam
proses pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini dibagi pada empat
macam pengamalan. Prosesi ini diawali dengan pembacaan surah al-Fatihah
tiga kali, sebagaimana dalam pengamalan Hizib Nahdlatul Wathan, yaitu
surah al-Fatihah pertama, kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat
dan para Nabi dan Rasul. Kedua, kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Majid, keluarga dan para pendukungnya. Dan ketiga,
kepada seluruh para ulama dan para aulia’, kepada kedua orang tua, para
guru dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Adapun empat macam pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang dimaksud, adalah sebagai berikut:
1. Wadzifah al-Rawatib, dibaca setiap selesai shalat lima waktu
2. Wirdu al-Rabithah, dibaca ketika menjelang waktu maghrib
3. Wadzifah al-Yaumiyah, dibaca satu kali setiap hari
4. Wadzifah al-Usbu,iyah, dibaca sekali dalam seminggu.
Rabu, 26 Maret 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
Beranda

