Laman
Kamis, 07 Mei 2015
Rabu, 01 Oktober 2014
Rabu, 27 Agustus 2014
Ante alat utama le’ NW.
Ante alat dunia akherat lekan NW. Sai-sai berjase le’ NW me’ syukuri sebab luek dengan celake anak cucune sebab luek kekentan dengan toakne.(Senin 11 Maret ’96)
(
Kamu alat yang utama bagi Nahdlatul Wathan. Kamu semua alat ( pejuang )
dunia akherat asal NW. Siapa pun yang berjasa di NW, kamu harus syukuri
sebab banyak orang yang celaka anak cucunya disebabkan karena tingkah
orang tuanya di masa lalu )
Ante
( kamu anak-anak Ma'had ) alat utame le' NW. Kalimat ini terucap oleh
Maulana Syaikh di hadapan tullab tholibat Ma'had DQH sebagai sebuah
ungkapan rasa cinta dan sayang kepada anak – anak Ma'had sebagai sumber
perjuangan.
Ma'had
sebagai tumpuan harapan terdepan. Dengan Ma'had NW akan maju.
Menyepelekan Ma'had NW akan luntur, karena ruh perjuangan itu ada pada
MDQH yang telah dirintis oleh Maulana Syaikh sebagai tempat mengkader
calon-calon ulama' handal masa depan.
Ma'had
Darul Qur'an Wal-Hadits adalah kecintaan Maulana Syaikh TGKH. M.
Zainuddin abdul Madjid dan maha gurunya Al- Maghfurlah Maulana Syaikh
Hasan Muhammad Al-Masysyat. Bahkan Maulana Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi
menyebutnya dalam syair :
لَهُ تَأَلِيْفٌ كَزَهْرِالرُّبَا
قَدْ ضَمَّتِ الشَّكْلَ اِلَى شَكْلِهِ
فِيْ سَاحَةِ الْعِلْمِ لَهُ مَعْهَدٌ
لاَ يَبْرَحُ الطُّلاَبُ فِيْ ظَلِّهِ
يَنْهَضُ بِالنَّشْءِ اِلَى مُسْتَوَى
بِذَلِكَ ألْمِعْرَاجِ مِنْ قَوْلِهِ
"
Terdapat hasil karya bagaikan sekuntum bunga mawar di lereng gunung
yang harum semerbak yang dapat memayungi bunga yang berbagai macam
warnanya ( ragamnya) untuk membina kader-kader putra bangsa maka
terbinalah Ma'had. Tidak ada tempat orang bernaung dengan
sungguh-sungguh melainkan Ma'had menjadi jenjang menaiki sampai ke
Mustawa dengan mi'raj sebagaimana yang dikatakannya…"
Setiap
pagi Maulana Syaikh memberikan pengajian, keliling Lombok membina ummat
agar tidak larut dengan kesenangan duniawi semata dan lupa kepada
kepentingan akhirat. Ma'had adalah satu-satunya sumber dan bibit da'i
yang diperjuangkan oleh Maulana untuk menggerakkan semangat jihad, mengobarkan api perjuangan yang tak lapuk karena hujan dan panas.
Begitu
besar jasa Maulana Syaikh mendirikan Ma'had DQH. Jasa beliau tidak
boleh terlupakan bagi siapapun yang mengerti kebenaran dan memahami arti
sejarah. Kita sepatutnya bersyukur dan bersyukur, adanya Ma'had
mengangkat dan mengharumkan nama organisasi Nahdlatul Wathan. Pada hari
Ahad, 24 Agustus 1997 Maulana Syaikh pernah mengatakan : " Taokne numpuk kesyukuranku le' Ma'had ".
Safari-safari
Ramadhan yang dilakukan oleh tullab ma'had setiap tahun ke berbagai
pelosok nusantara merupakan buah bukti bentuk perjuangan dan keberanian
tullab Ma'had untuk menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tullab Ma'had
banyak yang melanjutkan studinya ke Madrasah Ash-Shaulatiyyah Makkah
Al-Mukarromah tempat dimana Al-Maghfurulah Maulana Syaikh dulu belajar.
Keberhasilan
dan kemajuan ini tidak boleh dilupakan oleh orang tua, anak cucu dan
generasi-generasi penerus perjuangan di masa-masa yang akan datang.
Dalam wasiat Maulana menyebut :
Aduh sayang !
Jangan anakku menutup mata
Tidak peduli bukti yang nyata
Jangan anakku berlagak buta
Sengaja melupa hubungan kita
4. Embe taok muridku si’ bani bebantelan dunia akherat. Luean si mentingang dirikne doang. ( 20 Maret ’96 )
( Manakah muridku yang berani berjuang dunia akhirat/lillahi ta'ala. Lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri )
Bani bebantelan dunia akhirat ( Berani sehidup semati dunia akhirat ).
Guru
adalah orang tua rohani, sedangkan ibu bapak adalah orang tua jasmani (
yang melahirkan kita ). Guru merupakan jalan untuk kita mengerti
bagaimana kekuasaan Allah, bagaimana keagungan Allah, sehingga kita
memahami apa yang seharusnya kita perbuat dan tinggalkan dalam menjalani
kehidupan di dunia ini. Seseorang tidak akan memperoleh kesuksesan dan
tidak pula ilmunya dapat bermanfaat apabila ia tidak menghormati gurunya
dan ilmu itu sendiri. Dalam Kitab Ta'limul Muta'allim disebutkan :
ماَ وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلاَّ بِالحْرُْمَةِ وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ وَالتَّعْظِيْمِ .
Artinya : Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengangungkan sesuatu itu, dan gagalnya juga hanya karena tidak mau mengagungkannya.
اَلاَ تَرَى اَنَّ اْلاِانْسَانَ لاَ يَكْفُرُ بِالْمَعْصِيَةِ وَاِنَّمَا يَكْفُرُ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.
Artinya
: Tidaklah Anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir lantaran
ma'siatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.
Kesalahan
yang terbesar bagi penuntut ilmu apabila ia tidak menghormati gurunya,
tidak menghormati keturunan gurunya, tidak menghormati orang yang
bersangkut paut dengan gurunya.
" Yang paling saya kasihani yang pernah saya ajar tetapi kelakuannya kurang ajar" . Kalimat ini Maulana Syaikh ungkapkan di depan tullab tholibat Ma'had pada hari Senin tanggal 8 September 1997.
Melupakan
atau mementingkan diri sendiri setelah guru membina dan membimbing para
santrinya ke jalan yang benar, tidak sepatutnya dilakukan bagi santri
yang telah terdidik dan terbina, apalagi Maulana Syaikh sering
mengingatkan :
" janganlah lalai janganlah lupa
sekalipun nanda menjadi " bapa"
sumber nikmat perlu dijaga
selama hidup di alam fana
" aduh sayang !
konon ada menjual gurunya
menjual ibu serta bapaknya
menjual NW serta madrasahnya
na'uzubillah apa jadinya…..
" aduh sayang !
kalau anakda ingat ilahi
masakan anakda menggantung diri
kalau anakda berhati murni
masakan lupa ayahda sendiri
Memperjuangkan
Nahdlatul Wathan tidak cukup ketika masih duduk di bangku sekolah atau
perkuliahan. Derap langkah, gelora perjuangan untuk ummat harus tetap
dipegang sampai akhir zaman. Karena setiap warga NW khususnya abituren
telah berjanji dan berbai'at akan tetap memperjuangkan Nahdlatul Wathan sampai akhir zaman. " Sabun kita adalah sabun i'tikad " ( Maulana Syaikh, Kamis, 9 Oktober 1997 )
5.
Sai-sai taok makne wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup ite ngupa’
iye si’ Pulau Lombok, lagu’ sayang ndekne taok maknane.(Minggu 7 April
’96)
(
Siapa-siapa yang mengetahui makna Wasiat Renungan Masa seluruhnya,
sanggup kita mengupah dia dengan pulau Lombok, akan tetapi sayang tidak
ada yang tahu maknanya )
Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru ini dialamatkan :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Kepada yang tercinta:
1.
Anakku semua abituren/pelajar Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah
Islamiyah ( NWDI ) dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah ( NBDI ).
2. Saudaraku Keluarga Besar Nahdlatul Wathan ( NW ) yang setia
Dengan
segala ketulusan hati Ayahanda sampaikan WASIAT RENUNGAN MASA
PENGALAMAN BARU ini, untuk diamalkan/dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Wasiat ( nasehat) ini adalah cetusan jiwa pengalaman hidup Ayahanda
selama ini dari masa ke masa.
Atas keikhlasan/kesetiaan anakku/saudaraku yang budiman, sebelumnya Ayahanda sampaikan terima kasih.
' WAMAN YUSABIH ABAHU FAMA DZOLAM"
WASSALAM
AYAHANDA AL-MUHIB
TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Pancor Bermi, 9 Dzulhijjah 1401 H/7 Oktober 1981 M
( Kutipan dari Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru hal. : 10 )
Wasiat
Renungan Masa merupakan bukti cinta Maulana Syaikh kepada kita semua,
cinta seorang ulama' kharismatik yang disegani karena keilmuannya.
Keilmuan beliau tidak saja dikagumi oleh teman-teman sekelas beliau,
akan tetapi guru-guru beliau juga sangat mengagumi kejeniusan
Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muh. Zainuddin abdul Madjid. Maulana
Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat, guru besar beliau sangat menyayangi
dan mengagumi beliau. Beliau pernah mengatakan :
مَادَعَوْتُ اِلاَّ وَاَشْرَكْتُ زَيْنَ الدِّيْنِ مَعِى
" Aku tidak akan berdo'a kecuali kalau Zainuddin sudah terlihat jelas di depanku dan bersamaku "
Disamping itu, pernyataan eksplisit lainnya yang menggambarkan hubungan yang sngat dekat antara keduanya adalah :
اَنَا اُحِبُّ مَنْ يُحِبُّكَ وَلاَ اُحِبُّ مَنْ لاَ يُحِبُّكَ
" Aku mencintai setiap orang yang mencintaimu, dan ( begitu pula sebaliknya) aku tidak mencintai orang yang tidak mencintaimu "
Wasiat
Renungan Masa tersebut merupakan pengalaman hidup beliau yang beliau
tuangkan dalam bait-bait syair yang mempunyai makna yang sangat
mendalam. Diksi yang beliau gunakan sangat pas dan menarik, menunjukkan
bahwa beliau seorang sastrawan handal.
Secara
keseluruhan makna Wasiat Renungan Masa sulit dipahami, karena ada makna
rahasia-rahasia yang maksudnya hanya diketahui oleh sesama para auliya'
Allah. Contohnya dalam bait berikut :
" DEWI mengirim sebuah kelapa
tinggi pohonnya lima ribu depa
batu keliling tugasnya menjaga
pulau Lombok selama-lamanya
sangat ajaibnya pengambilan batu
ia berpindah ke sana ke situ
ngembalikannya secara tertentu
diterimakan di atas perahu
Kamis, 03 April 2014
Fatwa Mulanasyaikh
Kumpulan Fatwa-Fatwa Tghk.M.Zainul Madjid
| |
Maulana
Syaikh kini telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Rabb Yang Maha Agung,
Dzat Yang Maha Segalanya. Beliau ditutup usianya pada hari Selasa, 20
Jumadil Akhir 1418 H / 21 Oktober 1997 M. meninggalkan kesan mendalam
bagi seantero warga Nahdlatul Wathan, tidak saja di dalam negeri akan
tetapi kepergian beliau juga tembus sampai ke Timur Tengah, negerinya
para nabi dan rasul. Rasa hati yang pilu tidak bisa terbendung, air mata
menetes membasahi pipi, Maulana telah meninggalkan kita semua,
meninggalkan beribu-ribu hikmah yang tertanam di bumi Rinjani. Akankah
akan terlupakan mutiara-mutiara berharga, akankah teralpakan
zamrud-zamrud molek yang terpercik rata membekas indah di kening-kening
para pemikir, di dahi-dahi para pejuang, di tangan-tangan para penyelam
lautan hikmah. Subhanallah, senyum beliau mengalir, jiwa beliau kokoh
dan tegar. Pada cita-cita beliau ada jutaan asa setinggi Himalaya dan
Rinjani. Pada murid-murid beliau tertanam hamparan benua-benua yang akan
tumbuh subur menghijau, menaungi tanah-tanah kering, menyegarkan
lahan-lahan kerontang. Lalu tumbuh bunga-bunga harum dikelilingi embun
bersih berkilau. Semerbak di seluruh pelosok negeri. Kita komit
menegakkan perjuangan ini.
Kala
hayat beliau, nasehat-nasehat mengalir dengan lantunan yang indah dan
menawan bagai tetesan air mengalir menyejukkan hati yang gersang, bagai
semburan sinar mentari pagi menerangi jagat yang masih kelam.
Membangkitkan semangat dikala hati sedang rapuh dan pilu. Dikala ribuan
insan-insan lemah mengharap dorongan dan stimulan. Beliau bangkit
mengangkat tangan, menyeru untuk maju di tengah-tengah pertempuran.
Serentak. Allohu Akbar. Jubah putih bersih selalu menemani dihiasi
surban khas indah menawan. Gagah, berani dan santun. Dengan lembut
doa-doa beliau menyelimuti segala penjuru dan berharap kita semua
kompak, utuh dan bersatu untuk menegakkan agama melalui Nahdlatul
Wathan.
Harapan
itu masih ada dan tidak boleh kandas, tidak harus ambruk dengan
hantaman badai, dentuman peluru, sabetan keris atau pedang. Hanya dengan
keteguhan, keutuhan dalam kebersamaan dan persatuan yang tidak boleh
lepas dan terlupakan, kita akan terbentuk menjadi manusia yang mengalami
prosentasi secara HDI ( Human Development Index ) atau disebut juga IPM
( Indeks Pembangunan Manusia ), manusia yang secara fisik dan ruh
berkembang dengan ikatan-ikatan erat yang dibentuk para ulama’.
Saudara-saudaraku.
Harapan-harapan beliau yang menyuruh warganya untuk kompak, utuh
bersatu tidak pernah lepas dan tidak pernah dilupakan tatkala beliau
mempunyai kesempatan baik di majlis-majlis pengajian ataupun di
tempat-tempat lain. Kalimat kompak, utuh, bersatulah terus didengungkan
supaya menjadi perekat rasa kebersamaan yang beliau harapkan dari dunia
sampai akhirat.
Sesungguhnya
nilai beliau itu ada pada perbuatan baiknya, inovasi dan keunggulannya,
pada ilmunya, pada kedermawanannya, pada kelembutan sikapnya, pada
imannya, pada jihadnya, dalam sopan santunnya, dalam kemuliaannya dan
sifat serta gelar yang baik-baik.
Dengan
jemarinya yang lembut beliau menulis wasiat dalam Hizib Nahdlatul
Wathan yang tercatat pada tanggal 23 Ramadhan 1376 H/23 Maret 1957 M.
yang berbunyi :
اولادى الاوفياء.........وتلامذتى العقلاء
ان اكرمكم عندى.......انفعكم لنهضة الوطن
وان شركم عندى .......اضركم بنهضة الوطن
فصابروا ورابطوا وجاهدوا ثم جاهدوا فى سبيل نهضةالوطن لإعلاء كلمة الدين والوطن
تكون بحول الله تعلى من المجاهدين لدينه والبارين المخلصين فى السر والعلن.
فتح الله علينا وعليكم ورزقنا واياكم والمحبين الحسنى وزيادة.
Anak-anakku yang setia dan murid-muridku yang berakal.
"
Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak
bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di
sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan".
Karena
itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, berjuang/kemudian
berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan
negara.
Niscaya
kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang shaleh
dan muhklis baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang
lain.
Semoga
Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu, dan semoga Ia
menganugerahi nikmat tambahan yang tiada taranya yaitu melihat zat-Nya
dari dalam surga.
Kemudian dalam Wasiat Renungan Masa Maulana Syaikh menyebutkan pula :
" Wahai anakku kompak bersatu
Jangan terpikat bujukan hantu
Bersilat lidah setiap waktu
Di balik udang batu di situ
" Bahwa iblis dua macamnya
Yakni syaitan dan manusia
Yang paling bahaya iblis kedua
Karena lidahnya sangat berbisa
Maulana
Syaikh mengharapkan kebersamaan sesama Islam, berjuang atas nama Allah
tidak terpikat dengan bujukan syaitan yang nyata maupun tidak nyata
1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia.
Hilangnya
kebersamaan tidak jarang menimbulkan malapetaka dan perpecahan.
Kejayaan Islam di masa lalu begitu disegani dan ditakuti oleh dunia
barat baik dari seni arsitekturnya, budaya, ilmu perang, ilmu politik
dan kegagahberanian tentaranya, sangat termasyhur pada masa itu. Sebut
saja pada zaman bani Umayyah, bani Abbasiyah dan masa-masa kejayaan
Islam yang tidak lain kemegahan dan kegemilangan itu diraih dengan rasa
patriotisme dan semangat kebersamaan. Namun apa yang terjadi pada era
sekarang, Islam tertindas di mana-mana, Irak negerinya hancur
porak-poranda, Palestina menjerit. Beribu-ribu ummat Islam dibantai oleh
kaum kafir laknatullah, tetapi Islam belum menunjukkan kekompakan
secara utuh bahwa Islam itu kuat, Islam itu mempunyai solidaritas, bahwa
sesama Islam di manapun berada adalah saudara kita. Ketika saudara kita
tertindas, kita harus merasakan penderitaannya dan berani berbuat untuk
membantu sesama. Yang terjadi justru hanya ada di beberapa negara kecil
saja yang peduli dan berani menyuarakan keberanian, itupun sangat
jauh dari negeri-negeri Islam yang dilanda bencana.
Mari kita wujudkan rasa kebersamaan untuk kejayaan Islam, negara dan bangsa kita. Ingatlah Allah berfirman dalam Surat Yunus : 19 :
Manusia
dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. Kalau
tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu,
pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang
mereka perselisihkan itu. ( Yunus 19 )
Keberagaman
makhluk di muka bumi bukanlah untuk dipertentangkan, akan tetapi
sebagai wujud yang perlu dicerna untuk dipikirkan oleh kita bahwa kita
adalah hamba yang memiliki kelebihan dari makhluk apapun. Perkhilafan
pandangan bukan sebagai garis kebenaran mutlak untuk personal saja namun
harus ada bukti yang mendukung bagaimana kadar keunggulan yang
menunjang pendapat sesorang tersebut sehingga akan valid dan kuat
keabsahan ide ataupun gagasan yang dituangkannya.
Jika terjadi sebuah perbedaan, maka bukan harus diselesaikan dengan
kekerasan, pengintimidasian, ataupun memblack list rival hingga
menjatuhkannya. Tetapi yang sangat perlu, mari kita berfikir cerdas
melalu kebijaksanaan berdasar keadilan, karena Allah sesungguhnya tidak
menyukai perpecahan dan pembuat kerusakan, karena perpecahan hanya
mengkacaukan peradaban di muka bumi. Bangsa Irak yang terkenal dengan
keagungan dan kemegahannya pada masa-masa khalifah Abbasiyah harus
tumbang karena hilangnya rasa persatuan dan kesatuan. Kerajaan Mongol
yang tidak menyembah Allah mengapa mampu menumbangkan kekuatan Islam
yang seharusnya jaya karena adanya kepercayaan bahwa Allah memberikan
rahmat-Nya. Tapi sekali lagi kita mundur dan terbelakang karena Islam
sudah hilang rasa persatuan dan kesatuannya.
Bangsa
Barat sangat mudah memporak porandakan negeri-negeri Islam,
meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah dan menghancurkan tempat-tempat
penting yang menjadi tempat perkumpulan Islam. Dan negara-negara Islam
masih belum membuka selimut beranjak menuju oase, membersihkan muka
supaya lebih jernih menatap " apa yang harus aku lakukan untuk agama
Islam ". Kumpulan Fatwa TGKH. Zainuddin Abdul Madjid
Kumpulan Fatwa-Fatwa Tgkh.M. Zainul Madjid
1. Jangan sekali diantara kamu memecah belah anakku yang dua (23 Februari ’96).
Nama Rauhun dan Raihanun Maulana Syaikh ambil dari salah satu surat dalam
Al-Qur'an yaitu Surat Al-Waqi'ah ayat ke-89.
Artinya : Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki jannah kenikmatan. (Al-Waqi'ah : 89 )
Dua
nama tersebut diharapkan oleh beliau benar-benar menjadi ketentraman
dan pemerolehan rizki yang bermanfaat baik untuk keluarga, bangsa dan
negara. Dua bunga yang tumbuh harum mewangi semerbak, yang harumnya
mampu menyapu bau asap pekat negeri ini.
Pondok
Pesantren Darun Nahdlatain NW Pancor dan Pondok Pesantren Syaikh
Zainuddin NW Anjani, dua pondok pesantren tempat beliau menanam benih
yang melahirkan tunas-tunas baru dan berharap menjadi mercusuar di
daerah Timur pulau Lombok menjadi kapal untuk mengarungi lautan
luas. Keduanya pula tidak boleh tergores atau terluka karena keduanya
adalah bunga yang memberikan keharuman dan nakhoda yang mengantarkan
hingga sampai pada tujuan.
Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan
THARIQAH HIZIB NAHDLATUL WATHAN
A. Arti Thariqah dan Tujuan Pengamalannya
Secara
etimologi tharqah berarti jalan menuju hakikat. Dengan kata lain
mengamalan syari’at. Sehingga secara terminologi, Muhammad Anin al-Kurdi
mengajukan tiga definisi, Yakni:
- Megamalkan syari’at, melaksanakan seluruh ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah (menggampangkan) ibadah yang sesungguhnya tidak boleh di permudah.
- Menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Allah sesuai dengan kesanggupannya, baik perintah dan larangan tersebut bersifat jelas maupun tidak (batin).
- Meninggalkan segala yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal yang mubah (yang mengandung fadhilah), menunaikan segala yang diwajibkan dan disunnatkan sesuai dengan kesanggupannya dibawah bimbingan seseorang mursyid dari sufi yang mencita-citakan suatu tujuan.
Thariqat
sebagaimana yang berkembang dikalangan ahli tasawuf, ialah jalan atau
petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang
dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, dan dikerjakan oleh
sahabat-sahabatnya, tabi’in-tabi’in turun temurun sampai kepada
guru-guru atau ulama-ulama yang sambung menyambung dan rantai berantai
sampai pada masa kita ini.
Sementara
menurut L. Massignon, seorang islamiisis yang pernah mengadakan
penelitian terhadap ajaran tasauf di beberapa negara Islam, sebagaimana
dikutip oleh Mahjuddin, memberikan dua macam pengertian thariqah.
Pertama, thariqah diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf, untuk
mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut al-maqamat dan
al-ahwal . Pengertian seperti ini menonjol pada paruh abad IX dan X
Masehi. Kedua, thariqah diatrikan ssebagai sebuah perkumpulan yang
didirikan menurut aturan-aturan yang ditetapkan oleh syeikh yang
menganut suatu aliran thariqah tertentu. Dalam perkumpulan tersebut,
seorang syeikh mengajarkan ilmu tasawuf menurut aliran thariqah yang
dianutnya, kemudian diamalkan secara bersama-sama dengan murid-muridnya.
Pengertian seperti ini menonjol setelah abad IX Masehi.
Adapun tujuan pengamalan thareqah, antara lain:
- Untuk mengadakan latihan jiwa (riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji melalui perbaikan budi pekerti.
- Untuk menumbuhkan rasa dekat kepada Allah swt melalui wirid dan zikir yang dibarengi dengan tafakkur.
- Menumbuhkan perasaan takut kepada Allah sehingga timbul dalam diri seseorang untuk berusaha menghindari diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lalai kepada-Nya.
- Untuk mencari ridha Allah semata, sehingga ia mencapai suatu tingkatan (maqam) ma’rifat, yang dapat mengetahui segala rahasia Allah dan Rasul-Nya secara jelas.
B. Sejarah Lahirnya Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan
Al-Gozali
dan Ibn al-Arabi membagi empat tahap yang harus dimulai oleh seseorang
yang menjalani ajaran tasawuf untuk mencapai tujuan yang dikenal sebagai
al-saadah (kebahagiaan) atau al-insan al-kamil (manussia paripurna).
Keempat tahapan itu, terdiri dari syari’at, thariqah, haqiqat, dan
ma’rifat. Berkaitan dengan ini Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Majid mengatakan bahwa syari’at itu merupakan uraian, thariqah
merupakan pelaksanaan, haqiqat merupakan keadaan dan ma’rifat merupakan
tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya. Ia juga
menganalogikan syari’at itu sebagai sebuah sampan (perahu), thariqah itu
adalah lautan, haqiqat itu adalah mutiara. Orang tidak akan mendapatkan
mutiara kecuali melewati lautan denggan menggunakan sampan.
Lebih
lanjut dalam ajaran tasawufnya ia tidak memisahkan diametral antara
fiqh dan tasawu. Dalam konteks ini ia sering mengungkapkan argumentasi
dengan mengutip pandangan Anas Ibn Malik yang mengatakan:
“Barang
siapa yang melaksanakan Fiqh saja tanpa dibarengi dengan pelaksanaan
tasawuf, maka ia temasuk golongan orang-orang fasiq, dan barang siapa
yang hanya melaksanakan tasawuf saja, tanpa melaksanakan fiqh, maka ia
termasuk golongan orang-orang zindik, sementara barang siapa yang
mengerjakan keduanya secara sinergis, maka ia termasuk orang-orang yang
telaah mencapai drajat haqiqat”.
Berkaitan
dengan ajaran untuk mensinerrgikan antara syariat dengan hhaqiqat di
atas, ia menulis dalam bait-bait syairnya sebagai berikut:
Wahai anakku jamaah thariqat
Janganlah lupa pada syariat
Ingatlah selalu kandungan baiat
Mudahan selamat dunia akhirat
Banyak sekali membisikkan hakikat
Padahal mereka buta syariat
Sehingga awam banyak terpikat
Menjadi zindik menjadi sesat
Selanjutnya
beranggkat dari pemikiran ini, ia ingin membentuk sebuah thariqat
Nahdlatul Wathan sebagai media untuk mensinergikan aspek syariat dan
thariqat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Proses
kelahiran Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan adalah ketika Tuan Guru Kiyai
Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menunaikan ibadah haji, saat ia
tengah beribadah di Masjid Nabawi di Madinah, ia didatangi seorang yang
kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir as dan ia menyampaikan salam dari
Nabi Ibrahim yang menyatakan, “bahwa Nahdlatul Wathan akan menjadi
organisasi yang lengkap dan sempurna, apabila sudah memiliki thariqat.”
Berdasarkan pengalaman spiritual ini, maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Majid mendirikan tariqat yang kemudian dinamakan dengan
Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan pada tahun 1964.
Penamaan
thariqat ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk melengkapi Hizib
Nahdlatul Wathan, sehingga thariqat ini merupakan intisari sari Hizib
Nahdlatul Wathan.
Disamping
dari pengalaman spiritual diatas, kelahiran thariqat ini juga diilhami
oleh maraknya aliran-aliran thariqat yang dianggap sesat, karena
meninggalkan ajaran-ajaran syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan
ibadah-ibadah lainnya.
Thariqat sesat ini olehnya disebut sebagai “thariqat syetan”, sebagaimana dikemukakan dalam syairnya:
Thariqat hizib harus berjalan
Bersama thariqat yang murni haluan
Membenteng syariat membentang iman
Menendang ajaran thariqat syetan
Selanjutnya
keberadaan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini juga sebagai respon
terhadap praktek pengalaman thariqat-thariqat selama ini, seperti
thariqat Qadariyah dan Naqsyabandiyah di lombok yang terkesan terlalu
berat dan memiliki persyaratan yang begitu ketat. Apalagi jika
ditambahkan dengan kewajiban ‘uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk
kehidupan dunia pada waktu tertentu. Sekalipun ‘uzlah ini juga tidak di
larang dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, sehingga pada umumnya
masyarkat merasa enggan untuk mengikutinya. Berdasarkan kondisi ini,
maka Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menyusun
Thrariqat Hizib Nahdlatul Wathan secara ringkas dan praktis, tampa
mengesampingkan makna esoteriknya (batinnya). Thariqat ini dapat
diamalkan oleh setiap orang dalam kondisi apapun, baik pada waktu
khusus, maupun pada waktu melaksanakan berbagai macam aktifitas
keseharian.
Bacaan
yang diamalkan dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan terdiri dari
ayat-ayat al-Qur’an, shalawat, do’a-do’a mu’tabar dari Rasulullah saw,
para ulama dan auliya’. Prosesi ini tidak membutuhkan waktu yang panjang
dibandingkan thariqat-thariqat yang lainnya.
Disamping
bacaannya yang simpel, thariqat ini juga memiliki syarat san ketentuan
yang ringan dan fleksibel bagi seseorang yang ingin mengamalkannya,
sehingga thariqat ini dimungkinkan untuk diamalkan dan diataptasi dalam
konteks modern, yang biasanya ditandai dengan sifat fleksibel, simpel
dan efesieni. Oleh karena thariqat ini dapat merespon tuntunan
masyarakat modern, maka thariqat ini juga dinamakan thariqat Akhir
Zaman. Berkaitan dengan ini, ia mengisyaratkan dalam bait syairnya:
Thariqat Hizib thariqat terakhir
Dengan bisyarah “Al-Basyirunnadzir”
Kepada Bermi Al-Faqir Al-Haqir
Dan ditaukidkan oleh Al-Khidir
Di
sisi lain terdapat sisi-sisi kesamaan antara Thariqat Hizib Nahdlatul
Wathan dengan konsepsi tasawuf modern yang dipelopori oleh Ibn Taimiyah.
Menurut Nurkholis Majid, “Tasawuf modern adalah sebuah penghayatan
keagamaan batini yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam
maslah-masalah kemasyarakatan”. Sesekali menyingkirkan diri (‘uzlah)
mungkin ada baiknya, jika hal itu dilakukan untuk menyegarkan kembali
wawasan dan meneruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak
dalam pelibatan diri dalam aktifitas yang lebih segar.
Kelonggaran-kelonggaran dalam pengalaman Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan
dimaksudkan agar orang dapat senantiasa melibatkan diri dalam berbagai
tugas kemasyarakatan. Sedangkan tidak adanya ber’uzlah dalam Thariqat
Hizib Nahdlatul Wathan menandakan kebolehan untuk dilakukan
sewaktu-waktu bila dianggap perlu. Dan ini berarti Thariqat Hizib
Nahdlatul Wathan, walaupun perlu ditelusuri lebih jauh lagi, tapi bisa
dipandang sebagai thariqat modern.
Praktisnya
cara pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, bisa dijadikan
alternatif berthariqat dalam kehidupan modern dewasa ini. Dengan
Thariqat Hizib Nahdlatul Watan, sekarang dapat melaksanakan tugas-tugas
kesehariannya tanpa ketinggalan akan kepuasan rohaniahnya. Dan
sebaliknya, seorang dapat hidup damai secara batiniah dalam suasana
kedekatan kepada Allah SWT tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan
dunia.
Kenyataan
tersebut ternyata lebih menarik minat berbagai kalangan untuk menerima
ijazah Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, mulai dari petani, nelayan,
pedagang, hingga kalangan profesional yang telah bersentuhan dengan
teknonolgi modern. Ini adalah kesimpulan yang Abdul Aziz, seorang
peneliti Litbang Depag RI yang mengatakan, bahwa Thariqat Hizib
Nahdlatul Wathan mampu menghilangkan perbedaan antara orang tradisional
dengan orang modern dalam Islam.
Adapun syarat keanggotaan thariqat ini adalah sebagai berikut:
- Ketaatan kepada pimpinan (mursyid) thariqat, yaitu Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, atau yang ditunjuknya.
- Mengamalkan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan setiap selesai shalat lima waktu.
- Bersedia membantu perjuangan Nahdlatul Wathan
- Membayar uang shalawat.
Sementara
ketentuan ijazah dan bai’at dalam penerimaan thariqat ini adalah
merupakan “aqad” sebagai syarat sah mengamalkannya. Ijazah dan bai’at
diberikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
sendiri, atau oleh wakilnya yang ditunjuk secara resmi, yaitu salah
seorang muridnya yang bernama Haji Muksin Makbul.
Thariqat
Hizib Nahdlatul Wathan juga tidak mengenal hirarki kepemimpinan yang
ketat. Namun demikian, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul
Majid memberi izin kepada seorang muridnya yang paling dipercaya untuk
mengijazahkan dan membai’at caloon anggota thariqat, yaitu Haji Muksin
Makbul.
Selanjutnya
dalam perkembangannya dewasa ini, Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang
berada dibawah pimpinan Haji Muksin Makbul ini terus mengalami
perkembangan di berbagai pelosok tanah air dan beberapa tenmpat di luar
negri seiring dengan perkembangan Organisasi Nahdlatul Wathan, seperti
di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan,
DKI Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bogor, Riau, Batam, Malaysia.
C. Proses Pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan
Dalam
proses pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini dibagi pada empat
macam pengamalan. Prosesi ini diawali dengan pembacaan surah al-Fatihah
tiga kali, sebagaimana dalam pengamalan Hizib Nahdlatul Wathan, yaitu
surah al-Fatihah pertama, kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat
dan para Nabi dan Rasul. Kedua, kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Majid, keluarga dan para pendukungnya. Dan ketiga,
kepada seluruh para ulama dan para aulia’, kepada kedua orang tua, para
guru dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Adapun empat macam pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang dimaksud, adalah sebagai berikut:
1. Wadzifah al-Rawatib, dibaca setiap selesai shalat lima waktu
2. Wirdu al-Rabithah, dibaca ketika menjelang waktu maghrib
3. Wadzifah al-Yaumiyah, dibaca satu kali setiap hari
4. Wadzifah al-Usbu,iyah, dibaca sekali dalam seminggu.
Makna Bulan Bintang Bersinar Lima
MAKNA BULAN BINTANG BERSINAR LIMA
“ Makna Simbolik Dalam Perspektif Kesejarahan “
Falsafah
Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah :Bulan melambangkan Islam,
Bintang melambangkan Iman dan Taqwa, Sinar Lima melambangbkan Rukun
Islam, Warna gambang dan tulisan putih melambangkan Ikhlas dan
Istiqomah, Warna dasar hijau melambangkan Selamat Bahagia Dunia Akhirat.
Secara
normatif, simbol seringkali diartikan sebatas penghias seperti bendera
atau vigura dalam sebuah organisasi. Nyaris tidak gali filosofi dan
makna kesejarahan dibalik simbol tersebut. Padahal betapa sebuah simbol
akan sangat bermakna ketika kita mau melihat sekilas sejarah bagaimana
simbol itu dibuat. Dengan demikian, sangatlah tepat dan cerdas bila
simbol Bulan Bintang Bersinar Lima dipahami sebagai sebuah nilai
kesejarahan yang berkaitan dengan agama dan negara bahkan lebih dari
hal tersebut sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
Dalam
konteks sejarah peradaban global misalnya, simbol Bulan Bintang
Bersinar Lima, pertama kali digunakan oleh kesultanan Turki Utsmani
tahun 1517-1923 M sekitar pertengahan abad ke sepuluh. Dalam dekade yang
sama Turki Utsmani berhasil menaklukkan konstantinopel yang beribukota
Romawi di bawah kekaisaran Bizantium, sebuah negara adidaya pada
zamannya. Keberhasilan Turki Utsmani dalam menaklukkan kota Romawi tidak
terlepas dari janji Rasulullah SAW, bahwa kota tersebut memang milik
umat Islam.
Kota
Romawi ditaklukan oleh Sultan Mahmud II atau lebih popular dengan nama
Sultan Muhammad Al Fatih dan di kala itu Kekaisaran Bizantium menetapkan
Kristen sebagai agama resmi negara dengan lambang bulan bintang sebagai
simbol negara. Setelah Turki Utsmani resmi berkuasa dalam menjalankan
kebijakan negara, simbol tersebut tetap di pertahankan dan secara
konstitusional akhirnya menjadi lambang negara dengan ibukota Istambul.
Sebelumnya,
bendera Turki Utsmani hanya berbentuk segitiga sama kaki dengan garis
sisi kakinya melengkung, berwarna merah. Setelah penaklukan
konstantinopel, di tengah bendera itu ditambahi gambar bulan dan bintang
berwarna putih. Pada tahun 1844, bentuk bendera tersebut disempunakan
lagi hingga menjadi segi empat. Kemudian pada tahun 1922 kembali
mengalami modifikasi yang selanjutnya di tahun 1936 ditetapkan dalam
konstitusi.
Setelah
runtuhnya turki utsmani, lambang tersebut tetap menjadi bendera resmi
Turki Modern, hanya saja ada perbedaan yang cukup significant yaitu
bintang dan bulan sabitnya dibuat agak langsing dan tidak terlalu tebal.
Sejak itulah bendera bulan sabit menjadi bendera resmi umat Islam
dengan kekuasaan territorial yang luas. Dengan demikian menjadi sangat
wajar jika lambang itu begitu melekat di hati ummat Islam diseluruh
belahan dunia.
Kenapa NW Menggunakan Simbol Bulan Bintang Tersebut?
Sehubungan
dengan sejarah itu, pendiri NWDI, NBDI, dan NW (TGKH. Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid Al-Masyhur) yang seorang ulama bervisi global,
yang sangat memahami dan menghargai arti sejarah mengabadikan elan
kejuangan tersebut. Karena sejarah merupalkan cerminan masa lalu untuk
menghadapi masa yang akan datang. Sejarah adalah peristiwa yang terjadi
berdasarkan fakta dan bukti nyata. Oleh karena itu, setelah beliau
menamatkan studinya di madrasah Ash-Shaulatiyah makkah atas perintah
mahagurunya yang sangat dicintai dan disayangi, yaitu Maulana Syeikh
Hasan Muhammad Al-Masysyath beliau kembali ke Indonesia, mendirikan
Pesantrean Al-Mujahidin selanjutnya Madrasah NWDI dan NBDI, kemudian
menyatukannya dalam sebuah Organisasi Nahdlatul Wathan. Semua lembaga
yang bernaung dibawah Organisasi Nahdlatul Wathan diberi simbol “Bulan
Bintang Bersinar Lima”.
Adapun arti dan Falsafah Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah :Bulan melambangkan Islam, Bintang melambangkan Iman dan Taqwa, Sinar Lima melambangbkan Rukun Islam, Warna gambang dan tulisan putih melambangkan Ikhlas dan Istiqomah, Warna dasar hijau melambangkan Selamat Bahagia Dunia Akhirat.
Untuk melanjutkan gerak Nahdlatul Wathan ke depan, beliau sangat mendambakan munculnya Bintang-Bintang Nahdlatul Wathan.
yang memiliki potensi dan militansi tinggi, baik dari segi semangat,
wawasan, maupun dari segi bobot keilmuan. Cita-cita beliau, dituangkan
dalam salah satu bait Hizib. “Dan Sinarilah Negara Kami Dengan Bintang–Bintang Nahdlatul Wathan “.
Untuk menjadi seorang bintang yang cemerlang, yang popular yang dibutuhkan dan dicintai oleh lingkungan.
- Kualitas sinarnya, kecemerlngannya itu yang membuatnya tampak jelas dan menonjol diantara orang lain/organisasi lain.
- Daya tariknya yaitu janji akan keuntungan bagi orang lain.
- Dampaknya, bila anda menghasilkan, anda akan dilindungi oleh mereka yang diuntungkan dan disanjung , dicintai dan disayangi oleh yang ingin diuntungkan.
- Hormatnya, karena anda yang memiliki pribadi dan akhlak yang pantas dihormati.
- Menghasilkan banyak karya (banyak berbuat untuk orang lain).
- Selalu karyanya ingin menjadi besar (bercita–cita besar).
- Tindakannya, tepat waktunya (mematuhinya).
- Tidak menunggu tetapi harus menjadi orang yang pertama memulai
- Anda harus memiliki mental yang kuat seperti batu karang yang hidup dalam laut.
Langganan:
Postingan (Atom)
Beranda

















