Laman

Selasa, 21 Februari 2017

PELANTIKAN PRAMUKA MTs NW SIKUR

KEGIATAN PELANTIKAN 
ANGGOTA PRAMUKA BARU TAHUN 2016









Sabtu, 20 Agustus 2016

 
 MEMORI HUT RI KE-71



















Kamis, 07 Mei 2015

Rabu, 01 Oktober 2014

FORMAT K1 S/D K7 UNTUK BOS

contoh Format K1 s/d K7
BOS 

 Untuk Download klik pada Gambar

https://www.dropbox.com/s/ic2zvd4vj4se2q2/Contoh-Formulir-BOS-K1-K7D.xlsx?dl=0
 


APLIKASI 
" SPJ BOS "


UNTUK SEDOT ....KLIK PADA GAMBAR

Rabu, 27 Agustus 2014

       Ante alat utama le’ NW.
Ante alat dunia akherat lekan NW. Sai-sai berjase le’ NW  me’ syukuri sebab luek dengan celake anak cucune sebab luek kekentan dengan toakne.(Senin 11 Maret ’96)
( Kamu alat yang utama bagi Nahdlatul Wathan. Kamu semua alat ( pejuang ) dunia akherat asal NW. Siapa pun yang berjasa di NW, kamu harus syukuri sebab banyak orang yang celaka anak cucunya disebabkan karena tingkah orang tuanya di masa lalu )

Ante ( kamu anak-anak Ma'had ) alat utame le' NW. Kalimat ini terucap oleh Maulana Syaikh di hadapan tullab tholibat Ma'had DQH sebagai sebuah ungkapan rasa cinta dan sayang kepada anak – anak Ma'had sebagai sumber perjuangan.
Ma'had sebagai tumpuan harapan terdepan. Dengan Ma'had NW akan maju. Menyepelekan Ma'had NW akan luntur, karena ruh perjuangan itu ada pada MDQH yang telah dirintis oleh Maulana Syaikh sebagai tempat mengkader calon-calon ulama' handal masa depan.
Ma'had Darul Qur'an Wal-Hadits adalah kecintaan Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin abdul Madjid dan maha gurunya Al- Maghfurlah Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat. Bahkan Maulana Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi menyebutnya dalam syair :

لَهُ تَأَلِيْفٌ كَزَهْرِالرُّبَا
                   قَدْ ضَمَّتِ الشَّكْلَ اِلَى شَكْلِهِ
فِيْ سَاحَةِ الْعِلْمِ لَهُ مَعْهَدٌ
                   لاَ يَبْرَحُ الطُّلاَبُ فِيْ ظَلِّهِ
يَنْهَضُ بِالنَّشْءِ اِلَى مُسْتَوَى
                   بِذَلِكَ ألْمِعْرَاجِ مِنْ قَوْلِهِ
" Terdapat hasil karya bagaikan sekuntum bunga mawar di lereng gunung yang harum semerbak yang dapat memayungi bunga yang berbagai macam warnanya ( ragamnya) untuk membina kader-kader putra bangsa maka terbinalah Ma'had. Tidak ada tempat orang bernaung dengan sungguh-sungguh melainkan Ma'had menjadi jenjang menaiki sampai ke Mustawa dengan mi'raj sebagaimana yang dikatakannya…"

Setiap pagi Maulana Syaikh memberikan pengajian, keliling Lombok membina ummat agar tidak larut dengan kesenangan duniawi semata dan lupa kepada kepentingan akhirat. Ma'had adalah satu-satunya sumber dan bibit da'i yang  diperjuangkan oleh Maulana untuk menggerakkan semangat jihad, mengobarkan api perjuangan yang tak lapuk karena hujan dan panas.
Begitu besar jasa Maulana Syaikh mendirikan Ma'had DQH. Jasa beliau tidak boleh terlupakan bagi siapapun yang mengerti kebenaran dan memahami arti sejarah. Kita sepatutnya bersyukur dan bersyukur, adanya Ma'had mengangkat dan mengharumkan nama organisasi Nahdlatul Wathan. Pada hari Ahad, 24 Agustus 1997 Maulana Syaikh pernah mengatakan : " Taokne numpuk kesyukuranku le' Ma'had ".
Safari-safari Ramadhan yang dilakukan oleh tullab ma'had setiap tahun ke berbagai pelosok nusantara merupakan buah bukti bentuk perjuangan dan keberanian tullab Ma'had untuk menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tullab Ma'had banyak yang melanjutkan studinya ke Madrasah Ash-Shaulatiyyah Makkah Al-Mukarromah tempat dimana Al-Maghfurulah Maulana Syaikh dulu belajar.
Keberhasilan dan kemajuan ini tidak boleh dilupakan oleh orang tua, anak cucu dan generasi-generasi penerus perjuangan di masa-masa yang akan datang. Dalam wasiat Maulana menyebut :

Aduh sayang  !
Jangan anakku menutup mata
Tidak peduli bukti yang nyata
Jangan anakku berlagak buta
Sengaja melupa hubungan kita

4. Embe taok muridku si’ bani bebantelan dunia akherat. Luean si mentingang  dirikne doang. ( 20 Maret ’96 )
     ( Manakah muridku yang berani berjuang dunia akhirat/lillahi ta'ala. Lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri )

Bani bebantelan dunia akhirat ( Berani sehidup semati dunia akhirat ).
Guru adalah orang tua rohani, sedangkan ibu bapak adalah orang tua jasmani ( yang melahirkan kita ). Guru merupakan jalan untuk kita mengerti bagaimana kekuasaan Allah, bagaimana keagungan Allah, sehingga kita memahami apa yang seharusnya kita perbuat dan tinggalkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Seseorang tidak akan memperoleh kesuksesan dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat apabila ia tidak menghormati gurunya dan ilmu itu sendiri. Dalam Kitab Ta'limul Muta'allim disebutkan :

ماَ وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلاَّ بِالحْرُْمَةِ وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ وَالتَّعْظِيْمِ .
Artinya : Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengangungkan sesuatu itu,  dan gagalnya juga hanya karena tidak mau mengagungkannya.
اَلاَ تَرَى اَنَّ اْلاِانْسَانَ لاَ يَكْفُرُ بِالْمَعْصِيَةِ وَاِنَّمَا يَكْفُرُ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.
Artinya : Tidaklah Anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir lantaran ma'siatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.

            Kesalahan yang terbesar bagi penuntut ilmu apabila ia tidak menghormati gurunya, tidak menghormati keturunan gurunya, tidak menghormati orang yang bersangkut paut dengan gurunya.
            " Yang paling saya kasihani yang pernah saya ajar tetapi kelakuannya kurang ajar" . Kalimat ini Maulana Syaikh ungkapkan di depan tullab tholibat Ma'had pada hari Senin tanggal 8 September 1997.
Melupakan atau mementingkan diri sendiri setelah guru membina dan membimbing para santrinya ke jalan yang benar, tidak sepatutnya dilakukan bagi santri yang telah terdidik dan terbina, apalagi Maulana Syaikh sering mengingatkan :
" janganlah lalai janganlah lupa
  sekalipun nanda menjadi " bapa"
  sumber nikmat perlu dijaga
  selama hidup di alam fana

" aduh sayang !
  konon ada menjual gurunya
  menjual ibu serta bapaknya
  menjual NW serta madrasahnya
  na'uzubillah apa jadinya…..

" aduh sayang !
  kalau anakda ingat ilahi
  masakan anakda menggantung diri
  kalau anakda berhati murni
  masakan lupa ayahda sendiri

Memperjuangkan Nahdlatul Wathan tidak cukup ketika masih duduk di bangku sekolah atau perkuliahan. Derap langkah, gelora perjuangan untuk ummat harus tetap dipegang sampai akhir zaman. Karena setiap warga NW khususnya abituren telah  berjanji dan berbai'at akan tetap memperjuangkan Nahdlatul Wathan sampai akhir zaman. " Sabun kita adalah sabun i'tikad " ( Maulana Syaikh, Kamis, 9 Oktober 1997 )

5. Sai-sai taok makne wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup ite ngupa’ iye si’ Pulau Lombok, lagu’ sayang ndekne taok maknane.(Minggu 7 April ’96)
     ( Siapa-siapa yang mengetahui makna Wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup kita mengupah dia dengan pulau Lombok, akan tetapi sayang tidak ada yang tahu maknanya )

Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru ini dialamatkan :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Kepada yang tercinta:
1. Anakku semua abituren/pelajar Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ( NWDI ) dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah ( NBDI ).
2.   Saudaraku Keluarga Besar Nahdlatul Wathan ( NW ) yang setia

Dengan segala ketulusan hati Ayahanda sampaikan WASIAT RENUNGAN MASA PENGALAMAN BARU ini, untuk diamalkan/dilaksanakan sebagaimana mestinya. Wasiat ( nasehat) ini adalah cetusan jiwa pengalaman hidup Ayahanda selama ini dari masa ke masa.
Atas keikhlasan/kesetiaan anakku/saudaraku yang budiman, sebelumnya Ayahanda sampaikan terima kasih.
' WAMAN YUSABIH ABAHU FAMA DZOLAM"

WASSALAM
AYAHANDA AL-MUHIB

TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Pancor Bermi, 9 Dzulhijjah 1401 H/7 Oktober 1981 M
( Kutipan dari Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru hal. : 10 )

Wasiat Renungan Masa merupakan bukti cinta Maulana Syaikh kepada kita semua, cinta seorang ulama' kharismatik yang disegani karena keilmuannya. Keilmuan beliau tidak saja dikagumi oleh teman-teman sekelas beliau, akan tetapi guru-guru beliau juga sangat mengagumi kejeniusan Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muh. Zainuddin abdul Madjid. Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat, guru besar beliau sangat menyayangi dan mengagumi beliau. Beliau pernah mengatakan :

مَادَعَوْتُ اِلاَّ وَاَشْرَكْتُ زَيْنَ الدِّيْنِ مَعِى
" Aku tidak akan berdo'a kecuali kalau Zainuddin sudah terlihat jelas di depanku dan bersamaku "

Disamping itu, pernyataan eksplisit lainnya yang menggambarkan hubungan yang sngat dekat antara keduanya adalah :

اَنَا اُحِبُّ مَنْ يُحِبُّكَ وَلاَ اُحِبُّ مَنْ لاَ يُحِبُّكَ
" Aku mencintai setiap orang yang mencintaimu, dan ( begitu pula sebaliknya) aku tidak mencintai orang yang tidak mencintaimu "

Wasiat Renungan Masa tersebut merupakan pengalaman hidup beliau yang beliau tuangkan dalam bait-bait syair yang mempunyai makna yang sangat mendalam. Diksi yang beliau gunakan sangat pas dan menarik, menunjukkan bahwa beliau seorang sastrawan handal.
 Secara keseluruhan makna Wasiat Renungan Masa sulit dipahami, karena ada makna rahasia-rahasia yang maksudnya hanya diketahui oleh sesama para auliya' Allah. Contohnya dalam bait berikut :
" DEWI mengirim sebuah kelapa
   tinggi pohonnya lima ribu depa
   batu keliling tugasnya menjaga
   pulau Lombok selama-lamanya

  sangat ajaibnya pengambilan batu
  ia berpindah ke sana ke situ
  ngembalikannya secara tertentu
  diterimakan di atas perahu

Kamis, 03 April 2014

Fatwa Mulanasyaikh

Kumpulan Fatwa-Fatwa Tghk.M.Zainul Madjid

  Mudah-mudahan kamu bisa kompak utuh tidak bisa terkecoh dengan orang yang  tidak mengingat dirinya, orang tua dan gurunya dan tidak tergoda oleh antek-antek setan, keluarga setan, kuli setan dan mendapat taufiq hidayah masuk syurga bighoiri hisab. (Rabu 24 Maret 1996).


 Maulana Syaikh kini telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Rabb Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Segalanya. Beliau ditutup usianya pada hari Selasa, 20 Jumadil Akhir 1418 H / 21 Oktober 1997 M. meninggalkan kesan mendalam bagi seantero warga Nahdlatul Wathan,  tidak saja di dalam negeri akan tetapi kepergian beliau juga tembus sampai ke Timur Tengah, negerinya para nabi dan rasul. Rasa hati yang pilu tidak bisa terbendung, air mata menetes membasahi pipi, Maulana telah meninggalkan kita semua, meninggalkan beribu-ribu hikmah yang tertanam di bumi Rinjani. Akankah akan terlupakan mutiara-mutiara berharga, akankah teralpakan zamrud-zamrud molek yang terpercik rata membekas indah di kening-kening para pemikir, di dahi-dahi para pejuang, di tangan-tangan para penyelam lautan  hikmah. Subhanallah, senyum beliau mengalir, jiwa beliau kokoh dan tegar. Pada cita-cita beliau ada jutaan asa setinggi Himalaya dan Rinjani. Pada murid-murid beliau tertanam hamparan benua-benua yang akan tumbuh subur menghijau, menaungi tanah-tanah kering, menyegarkan lahan-lahan kerontang. Lalu tumbuh bunga-bunga harum dikelilingi embun bersih berkilau. Semerbak di seluruh pelosok negeri. Kita komit menegakkan perjuangan ini.

Kala hayat beliau, nasehat-nasehat mengalir dengan lantunan yang indah dan menawan bagai tetesan air mengalir menyejukkan hati yang gersang, bagai semburan sinar mentari pagi menerangi jagat yang masih kelam. Membangkitkan semangat dikala hati sedang rapuh dan pilu. Dikala ribuan insan-insan lemah mengharap dorongan dan stimulan. Beliau bangkit mengangkat tangan, menyeru untuk maju di tengah-tengah pertempuran. Serentak. Allohu Akbar. Jubah putih bersih selalu menemani dihiasi surban khas indah menawan. Gagah, berani dan santun. Dengan lembut doa-doa beliau menyelimuti segala penjuru dan berharap kita semua kompak, utuh dan bersatu untuk menegakkan agama melalui Nahdlatul Wathan.

Harapan itu masih ada dan tidak boleh kandas, tidak harus ambruk dengan hantaman badai, dentuman peluru, sabetan keris atau pedang. Hanya dengan keteguhan, keutuhan dalam kebersamaan dan persatuan yang tidak boleh lepas dan terlupakan, kita akan terbentuk menjadi manusia yang mengalami prosentasi secara HDI ( Human Development Index ) atau disebut juga IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ), manusia yang secara fisik dan ruh berkembang dengan ikatan-ikatan erat yang dibentuk para ulama’.

Saudara-saudaraku. Harapan-harapan beliau yang menyuruh warganya untuk kompak, utuh bersatu tidak pernah lepas dan tidak pernah dilupakan tatkala beliau mempunyai kesempatan baik  di majlis-majlis pengajian ataupun di tempat-tempat lain. Kalimat kompak, utuh, bersatulah terus didengungkan supaya menjadi perekat rasa kebersamaan yang beliau harapkan dari dunia sampai akhirat.

Sesungguhnya nilai beliau itu ada pada perbuatan baiknya, inovasi dan keunggulannya, pada ilmunya, pada kedermawanannya, pada kelembutan sikapnya, pada imannya, pada jihadnya, dalam sopan santunnya, dalam kemuliaannya dan sifat serta gelar yang baik-baik.

Dengan jemarinya yang lembut beliau menulis wasiat dalam Hizib Nahdlatul Wathan yang tercatat pada tanggal 23 Ramadhan 1376 H/23 Maret 1957 M. yang berbunyi :



اولادى الاوفياء.........وتلامذتى العقلاء

ان اكرمكم عندى.......انفعكم لنهضة الوطن

وان شركم عندى .......اضركم بنهضة الوطن

فصابروا ورابطوا وجاهدوا ثم جاهدوا فى سبيل نهضةالوطن لإعلاء كلمة الدين والوطن

تكون بحول الله تعلى من المجاهدين لدينه والبارين المخلصين فى السر والعلن.

 فتح الله علينا وعليكم ورزقنا واياكم والمحبين الحسنى وزيادة.

Anak-anakku yang setia  dan murid-muridku yang berakal.

" Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan".

Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, berjuang/kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara.

Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang shaleh dan muhklis baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.

Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu, dan semoga  Ia menganugerahi nikmat tambahan yang tiada taranya yaitu melihat zat-Nya dari dalam surga.



Kemudian dalam Wasiat Renungan Masa Maulana Syaikh menyebutkan pula :

" Wahai anakku kompak bersatu

   Jangan terpikat bujukan hantu

   Bersilat lidah setiap waktu

   Di balik udang batu di situ



" Bahwa iblis dua macamnya

   Yakni syaitan dan manusia

   Yang paling bahaya iblis kedua

   Karena lidahnya sangat berbisa



Maulana Syaikh mengharapkan kebersamaan sesama Islam, berjuang atas nama Allah tidak terpikat dengan bujukan syaitan yang nyata maupun tidak nyata


1.  Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2.  Raja manusia.

3.  Sembahan manusia.

4.  Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5.  Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

6.  Dari (golongan) jin dan manusia.





Hilangnya kebersamaan tidak jarang menimbulkan malapetaka dan perpecahan. Kejayaan Islam di masa lalu begitu disegani dan ditakuti oleh dunia barat baik dari seni arsitekturnya, budaya, ilmu perang, ilmu politik dan kegagahberanian tentaranya, sangat termasyhur pada masa itu. Sebut saja pada zaman bani Umayyah, bani Abbasiyah dan masa-masa kejayaan Islam yang tidak lain kemegahan dan kegemilangan itu diraih dengan rasa patriotisme dan semangat kebersamaan. Namun apa yang terjadi pada era sekarang, Islam tertindas di mana-mana, Irak negerinya hancur porak-poranda, Palestina menjerit. Beribu-ribu ummat Islam dibantai oleh kaum kafir laknatullah, tetapi Islam belum menunjukkan kekompakan secara utuh bahwa Islam itu kuat, Islam itu mempunyai solidaritas, bahwa sesama Islam di manapun berada adalah saudara kita. Ketika saudara kita tertindas, kita harus merasakan penderitaannya dan berani berbuat untuk membantu sesama. Yang terjadi justru hanya ada di beberapa negara kecil saja  yang peduli dan berani menyuarakan keberanian, itupun  sangat jauh dari negeri-negeri Islam yang dilanda bencana.

            Mari kita wujudkan rasa kebersamaan untuk kejayaan Islam, negara dan bangsa kita. Ingatlah Allah berfirman dalam Surat  Yunus : 19 :


 Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. ( Yunus 19 )



            Keberagaman makhluk di muka bumi bukanlah untuk dipertentangkan, akan tetapi sebagai wujud yang perlu dicerna untuk dipikirkan oleh kita bahwa kita adalah hamba yang memiliki kelebihan dari makhluk apapun. Perkhilafan pandangan bukan sebagai garis kebenaran mutlak untuk personal saja namun harus ada bukti yang mendukung bagaimana kadar keunggulan yang menunjang pendapat sesorang tersebut sehingga akan valid dan kuat keabsahan ide ataupun gagasan yang dituangkannya.

            Jika terjadi sebuah perbedaan, maka bukan harus diselesaikan dengan kekerasan, pengintimidasian,  ataupun  memblack list rival hingga menjatuhkannya. Tetapi yang sangat perlu, mari kita berfikir cerdas melalu kebijaksanaan berdasar keadilan, karena Allah sesungguhnya tidak menyukai perpecahan dan pembuat kerusakan, karena perpecahan hanya mengkacaukan peradaban di muka bumi. Bangsa Irak yang terkenal dengan keagungan dan kemegahannya pada masa-masa khalifah Abbasiyah harus tumbang karena hilangnya rasa persatuan dan kesatuan. Kerajaan Mongol yang tidak menyembah Allah mengapa mampu menumbangkan kekuatan Islam yang seharusnya jaya karena adanya kepercayaan bahwa Allah memberikan rahmat-Nya. Tapi sekali lagi kita mundur dan terbelakang karena Islam sudah hilang rasa persatuan dan kesatuannya.
Bangsa Barat sangat mudah memporak porandakan negeri-negeri Islam, meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah dan menghancurkan tempat-tempat penting yang menjadi tempat perkumpulan Islam. Dan negara-negara Islam masih belum membuka selimut beranjak menuju oase, membersihkan muka supaya lebih jernih menatap " apa yang harus aku lakukan untuk agama Islam ".

Kumpulan Fatwa TGKH. Zainuddin Abdul Madjid

Kumpulan Fatwa-Fatwa Tgkh.M. Zainul Madjid

1.      Jangan sekali diantara kamu memecah belah anakku yang dua (23 Februari ’96).
Nama Rauhun dan Raihanun Maulana Syaikh ambil dari salah satu surat dalam 
Al-Qur'an yaitu Surat Al-Waqi'ah ayat ke-89.

Artinya : Maka dia memperoleh ketenteraman              dan rezki jannah kenikmatan. (Al-Waqi'ah : 89 )
Dua nama tersebut diharapkan oleh beliau benar-benar menjadi ketentraman dan pemerolehan rizki yang bermanfaat baik untuk keluarga, bangsa dan negara. Dua bunga yang tumbuh harum mewangi semerbak, yang harumnya mampu menyapu bau asap pekat negeri ini.
Pondok Pesantren Darun Nahdlatain NW Pancor dan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, dua pondok pesantren tempat beliau menanam benih yang melahirkan tunas-tunas baru dan berharap menjadi mercusuar di daerah Timur pulau Lombok  menjadi kapal untuk mengarungi lautan luas. Keduanya pula tidak boleh tergores atau terluka karena keduanya adalah bunga yang memberikan keharuman dan nakhoda yang mengantarkan hingga sampai pada tujuan.
Ketika kering melanda, ia rela menyiramkan air, ketika banjir datang ia rela menjadi yang terdepan untuk menghadang, ketika lapar dan haus menjelma, ia tiada berlagak buta. Keharmonisan dalam kebijakan, biarkan berbuah kenyamanan. Keakuran dan kebersamaan, tetapkan beriringan karena ia adalah satu untuk selalu menyatu meski beraneka rintangan tertumpuk berbatu.

Fhoto TGKH. Zainuddin Abdul Madjid


  Fhoto Kenangan Bapak Maulana Syaikh


 


 




                                                                                                                                                                                         






Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan

THARIQAH HIZIB NAHDLATUL WATHAN 

A. Arti Thariqah dan Tujuan Pengamalannya
 
Secara etimologi tharqah berarti jalan menuju hakikat. Dengan kata lain mengamalan syari’at. Sehingga secara terminologi, Muhammad Anin al-Kurdi mengajukan tiga definisi, Yakni:
  • Megamalkan syari’at, melaksanakan seluruh ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah (menggampangkan) ibadah yang sesungguhnya tidak boleh di permudah.
  • Menjauhi larangan dan melaksanakan perintah Allah sesuai dengan kesanggupannya, baik perintah dan larangan tersebut bersifat jelas maupun tidak (batin).
  • Meninggalkan segala yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal yang mubah (yang mengandung fadhilah), menunaikan segala yang diwajibkan dan disunnatkan sesuai dengan kesanggupannya dibawah bimbingan seseorang mursyid dari sufi yang mencita-citakan suatu tujuan.

Thariqat sebagaimana yang berkembang dikalangan ahli tasawuf, ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, dan dikerjakan oleh sahabat-sahabatnya, tabi’in-tabi’in turun temurun sampai kepada guru-guru atau ulama-ulama yang sambung menyambung dan rantai berantai sampai pada masa kita ini.

Sementara menurut L. Massignon, seorang islamiisis yang pernah mengadakan penelitian terhadap ajaran tasauf di beberapa negara Islam, sebagaimana dikutip oleh Mahjuddin, memberikan dua macam pengertian thariqah. Pertama, thariqah diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut al-maqamat dan al-ahwal . Pengertian seperti ini menonjol pada paruh abad IX dan X Masehi. Kedua, thariqah diatrikan ssebagai sebuah perkumpulan yang didirikan menurut aturan-aturan yang ditetapkan oleh syeikh yang menganut suatu aliran thariqah tertentu. Dalam perkumpulan tersebut, seorang syeikh mengajarkan ilmu tasawuf menurut aliran thariqah yang dianutnya, kemudian diamalkan secara bersama-sama dengan murid-muridnya. Pengertian seperti ini menonjol setelah abad IX Masehi.
Adapun tujuan pengamalan thareqah, antara lain:
  1. Untuk mengadakan latihan jiwa (riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji melalui perbaikan budi pekerti.
  2. Untuk menumbuhkan rasa dekat kepada Allah swt melalui wirid dan zikir yang dibarengi dengan tafakkur.
  3. Menumbuhkan perasaan takut kepada Allah sehingga timbul dalam diri seseorang untuk berusaha menghindari diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lalai kepada-Nya.
  4. Untuk mencari ridha Allah semata, sehingga ia mencapai suatu tingkatan (maqam) ma’rifat, yang dapat mengetahui segala rahasia Allah dan Rasul-Nya secara jelas.

B. Sejarah Lahirnya Thariqah Hizib Nahdlatul Wathan
 
Al-Gozali dan Ibn al-Arabi membagi empat tahap yang harus dimulai oleh seseorang yang menjalani ajaran tasawuf untuk mencapai tujuan yang dikenal sebagai al-saadah (kebahagiaan) atau al-insan al-kamil (manussia paripurna). Keempat tahapan itu, terdiri dari syari’at, thariqah, haqiqat, dan ma’rifat. Berkaitan dengan ini Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mengatakan bahwa syari’at itu merupakan uraian, thariqah merupakan pelaksanaan, haqiqat merupakan keadaan dan ma’rifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya. Ia juga menganalogikan syari’at itu sebagai sebuah sampan (perahu), thariqah itu adalah lautan, haqiqat itu adalah mutiara. Orang tidak akan mendapatkan mutiara kecuali melewati lautan denggan menggunakan sampan.
Lebih lanjut dalam ajaran tasawufnya ia tidak memisahkan diametral antara fiqh dan tasawu. Dalam konteks ini ia sering mengungkapkan argumentasi dengan mengutip pandangan Anas Ibn Malik yang mengatakan:
“Barang siapa yang melaksanakan Fiqh saja tanpa dibarengi dengan pelaksanaan tasawuf, maka ia temasuk golongan orang-orang fasiq, dan barang siapa yang hanya melaksanakan tasawuf saja, tanpa melaksanakan fiqh, maka ia termasuk golongan orang-orang zindik, sementara barang siapa yang mengerjakan keduanya secara sinergis, maka ia termasuk orang-orang yang telaah mencapai drajat haqiqat”.
Berkaitan dengan ajaran untuk mensinerrgikan antara syariat dengan hhaqiqat di atas, ia menulis dalam bait-bait syairnya sebagai berikut:
Wahai anakku jamaah thariqat
Janganlah lupa pada syariat
Ingatlah selalu kandungan baiat
Mudahan selamat dunia akhirat
Banyak sekali membisikkan hakikat
Padahal mereka buta syariat
Sehingga awam banyak terpikat
Menjadi zindik menjadi sesat
Selanjutnya beranggkat dari pemikiran ini, ia ingin membentuk sebuah thariqat Nahdlatul Wathan sebagai media untuk mensinergikan aspek syariat dan thariqat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Proses kelahiran Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan adalah ketika Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menunaikan ibadah haji, saat ia tengah beribadah di Masjid Nabawi di Madinah, ia didatangi seorang yang kemudian diyakini sebagai Nabi Khidir as dan ia menyampaikan salam dari Nabi Ibrahim yang menyatakan, “bahwa Nahdlatul Wathan akan menjadi organisasi yang lengkap dan sempurna, apabila sudah memiliki thariqat.” Berdasarkan pengalaman spiritual ini, maka Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan tariqat yang kemudian dinamakan dengan Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan pada tahun 1964.
Penamaan thariqat ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk melengkapi Hizib Nahdlatul Wathan, sehingga thariqat ini merupakan intisari sari Hizib Nahdlatul Wathan.
Disamping dari pengalaman spiritual diatas, kelahiran thariqat ini juga diilhami oleh maraknya aliran-aliran thariqat yang dianggap sesat, karena meninggalkan ajaran-ajaran syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya.
Thariqat sesat ini olehnya disebut sebagai “thariqat syetan”, sebagaimana dikemukakan dalam syairnya:
Thariqat hizib harus berjalan
Bersama thariqat yang murni haluan
Membenteng syariat membentang iman
Menendang ajaran thariqat syetan
Selanjutnya keberadaan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini juga sebagai respon terhadap praktek pengalaman thariqat-thariqat selama ini, seperti thariqat Qadariyah dan Naqsyabandiyah di lombok yang terkesan terlalu berat dan memiliki persyaratan yang begitu ketat. Apalagi jika ditambahkan dengan kewajiban ‘uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk kehidupan dunia pada waktu tertentu. Sekalipun ‘uzlah ini juga tidak di larang dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, sehingga pada umumnya masyarkat merasa enggan untuk mengikutinya. Berdasarkan kondisi ini, maka Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid menyusun Thrariqat Hizib Nahdlatul Wathan secara ringkas dan praktis, tampa mengesampingkan makna esoteriknya (batinnya). Thariqat ini dapat diamalkan oleh setiap orang dalam kondisi apapun, baik pada waktu khusus, maupun pada waktu melaksanakan berbagai macam aktifitas keseharian.
Bacaan yang diamalkan dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an, shalawat, do’a-do’a mu’tabar dari Rasulullah saw, para ulama dan auliya’. Prosesi ini tidak membutuhkan waktu yang panjang dibandingkan thariqat-thariqat yang lainnya.
Disamping bacaannya yang simpel, thariqat ini juga memiliki syarat san ketentuan yang ringan dan fleksibel bagi seseorang yang ingin mengamalkannya, sehingga thariqat ini dimungkinkan untuk diamalkan dan diataptasi dalam konteks modern, yang biasanya ditandai dengan sifat fleksibel, simpel dan efesieni. Oleh karena thariqat ini dapat merespon tuntunan masyarakat modern, maka thariqat ini juga dinamakan thariqat Akhir Zaman. Berkaitan dengan ini, ia mengisyaratkan dalam bait syairnya:
Thariqat Hizib thariqat terakhir
Dengan bisyarah “Al-Basyirunnadzir”
Kepada Bermi Al-Faqir Al-Haqir
Dan ditaukidkan oleh Al-Khidir
Di sisi lain terdapat sisi-sisi kesamaan antara Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan dengan konsepsi tasawuf modern yang dipelopori oleh Ibn Taimiyah. Menurut Nurkholis Majid, “Tasawuf modern adalah sebuah penghayatan keagamaan batini yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam maslah-masalah kemasyarakatan”. Sesekali menyingkirkan diri (‘uzlah) mungkin ada baiknya, jika hal itu dilakukan untuk menyegarkan kembali wawasan dan meneruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak dalam pelibatan diri dalam aktifitas yang lebih segar. Kelonggaran-kelonggaran dalam pengalaman Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan dimaksudkan agar orang dapat senantiasa melibatkan diri dalam berbagai tugas kemasyarakatan. Sedangkan tidak adanya ber’uzlah dalam Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan menandakan kebolehan untuk dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu. Dan ini berarti Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, walaupun perlu ditelusuri lebih jauh lagi, tapi bisa dipandang sebagai thariqat modern.
Praktisnya cara pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, bisa dijadikan alternatif berthariqat dalam kehidupan modern dewasa ini. Dengan Thariqat Hizib Nahdlatul Watan, sekarang dapat melaksanakan tugas-tugas kesehariannya tanpa ketinggalan akan kepuasan rohaniahnya. Dan sebaliknya, seorang dapat hidup damai secara batiniah dalam suasana kedekatan kepada Allah SWT tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan dunia.
Kenyataan tersebut ternyata lebih menarik minat berbagai kalangan untuk menerima ijazah Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, mulai dari petani, nelayan, pedagang, hingga kalangan profesional yang telah bersentuhan dengan teknonolgi modern. Ini adalah kesimpulan yang Abdul Aziz, seorang peneliti Litbang Depag RI yang mengatakan, bahwa Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan mampu menghilangkan perbedaan antara orang tradisional dengan orang modern dalam Islam.
Adapun syarat keanggotaan thariqat ini adalah sebagai berikut:
  1. Ketaatan kepada pimpinan (mursyid) thariqat, yaitu Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, atau yang ditunjuknya.
  2. Mengamalkan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan setiap selesai shalat lima waktu.
  3. Bersedia membantu perjuangan Nahdlatul Wathan
  4. Membayar uang shalawat.
Sementara ketentuan ijazah dan bai’at dalam penerimaan thariqat ini adalah merupakan “aqad” sebagai syarat sah mengamalkannya. Ijazah dan bai’at diberikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid sendiri, atau oleh wakilnya yang ditunjuk secara resmi, yaitu salah seorang muridnya yang bernama Haji Muksin Makbul.
Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan juga tidak mengenal hirarki kepemimpinan yang ketat. Namun demikian, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid memberi izin kepada seorang muridnya yang paling dipercaya untuk mengijazahkan dan membai’at caloon anggota thariqat, yaitu Haji Muksin Makbul.
Selanjutnya dalam perkembangannya dewasa ini, Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang berada dibawah pimpinan Haji Muksin Makbul ini terus mengalami perkembangan di berbagai pelosok tanah air dan beberapa tenmpat di luar negri seiring dengan perkembangan Organisasi Nahdlatul Wathan, seperti di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan, DKI Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bogor, Riau, Batam, Malaysia.

C. Proses Pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan
 
Dalam proses pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan ini dibagi pada empat macam pengamalan. Prosesi ini diawali dengan pembacaan surah al-Fatihah tiga kali, sebagaimana dalam pengamalan Hizib Nahdlatul Wathan, yaitu surah al-Fatihah pertama, kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat dan para Nabi dan Rasul. Kedua, kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, keluarga dan para pendukungnya. Dan ketiga, kepada seluruh para ulama dan para aulia’, kepada kedua orang tua, para guru dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Adapun empat macam pengamalan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan yang dimaksud, adalah sebagai berikut:
1. Wadzifah al-Rawatib, dibaca setiap selesai shalat lima waktu
2. Wirdu al-Rabithah, dibaca ketika menjelang waktu maghrib
3. Wadzifah al-Yaumiyah, dibaca satu kali setiap hari
4. Wadzifah al-Usbu,iyah, dibaca sekali dalam seminggu.