Laman

Selasa, 11 April 2017

LT 2 DI SMPN 3 SIKUR








"Eyang, ilmu segitu banyaknya diwariskan ke siapa?" "Saya berikan cucuku, Zainuddin II. Dia punya kecerdasan tiga kali lipat" (Dialog Soe dan Maulana)

Selepas "kursus bulanan" itu, ia pun datang ke kediaman gurunya di Pancor Lombok Timur. Ia me-nyampaikan amanat yang diterimanya dahulu dari laki-laki yang mengajarnya. Pesan laki-laki itu: "kembalikan foto ini kepada saya setelah tiga bulan". Sesampainya di al-Abrar, ia tercengang. Disaksikannya lautan putih dan putih dalam balutan gamis dan kain yakni mahasiswa MDQH yang sedang belajar. Ia ragu mematung di depan mushalla itu. Ia canggung dengan balutan jeans dan kaos oblong yang dikenakannya.
Tepat di depan pintu rumah gurunya itu, ia pun tertegun. Wajah lelaki yang mengajarnya dalam rupa waktu dan tempat yang tidak bisa dinarasikan kata dan nalar itu ternyata persis seperti apa yang disaksikannya kini. Ia menyaksikan lelaki itu ternyata sesuai dengan lelaki yang mengajarnya. Ia awalnya juga sangsi bahwa apakah ia akan dikenal atau mungkin saja tetap dikenal namun tidak akan diterima. Ia ragu pada penampilan-nya yang jauh dari kesan santri seorang wali.
Senyum sapa sang Guru yang tak lain adalah Maulana al-Syaikh membuat ia takluk. Ia pun disapa dengan canda layaknya persuaan demi persuaan berbulan-bulan sebelumnya. "Hei, kamu jangan nakal, sini masuk, kamu diam sini, kamu belajar di sini", sapa Maulana seperti dituturkannya. Soedarmaji kemudian tinggal belajar menjadi murid di alam zahir selama beberapa minggu. Ia membandingkan sendiri gurunya di alam yang dia sendiri tidak mampu melukisnya dan di alam yang dapat dihadiri oleh ribuan manusia.
Ia bercerita bahwa di rumah gurunya tidak ada yang serius dikerjakannya. Disana ia tidak "serius" mengaji tetapi banyak diajak bercanda oleh gurunya. Disitulah kemudian ia mendapatkan stempel kemuridan. "Sini kamu saya stempel lidahmu", kata Maulana. Lidahnya ditulis oleh Maulana al-Syaikh dengan tulisan yang tidak dimengertinya. Setelah tulisan itulah ia dengan leluasa menyampaikan pesan-pesan agama bahkan dengan spontan dapat menyampaikan dalil dari nash Quran dan Hadits sesuai keperluannya.
Sepulang dari belajarnya itu, ia pun memantapkan dirinya untuk meninggalkan dunia angin yang mendera indah dalam pesona matahari di buritan kapal. Dia tinggalkan kehidupan glamor dengan makanan dan minuman yang melenakan. Ia sudahi berhubungan dengan sekian jenis perilaku tak terpuji di hadapan tuhan. Langit masih menyisakan daratan tempat menambatkan iman dan kuasa Allah yang memper-temukan ia dengan raja wali dari Lombok Anfanan.
Lelaki eks-Katolik itu akhirnya memilih jalan dakwah dibandingkan menjadi penginjil. Ia menjadi pendakwah alih-alih menjadi pengkhutbah seperti Mati-us dan Lukas. Logika dan nalar keislamannya mengalir seolah pernah belajar agama dalam waktu yang lama. Ayat dan Hadits dituturnya seolah ia pernah mengkaji tafsir hadits dalam waktu yang lama pula. Ia tuturkan bahwa ia memiliki jamaah dari kalangan jetset dan mampu menyadarkan ratusan orang dari keterpurukan iman dan meraihnya dari perilaku keterpurukan.
Ia menjadi konsultan iman bagi ratusan pimpinan perusahaan, ia menjadi kiyai di gedung-gedung kantor bahkan pejabat tinggi. Ia mampu mengislamkan ratusan orang terutama keluarga besarnya. Ia menuturkan bahwa lingkungan kristiani di kampungnya telah berubah menjadi keluarga muslim setelah sebelumnya ia dianggap gila dan terkucilkan.
Banyak keajaiban demi keajaiban muncul saat Maulana hilang dari pelupuk mata. Maulana tidak lagi hadir sebagai sosok yang telah mengajarkan secara lahiriah tetapi juga ternyata Maulana lebih dari sekadar yang dikenalkan sejarah manusia biasa. Maulana al-Syaikh tutup usia dalam dimensi waktu duniawi namun masih tetap hadir mengajar para muridnya.
Maulana masih mengajar saat ini. Maulana masih hayat, hayat ma’rifat. Hayat tanpa dimensi ruang dan waktu duniawi. Waktu dan tempat tanpa dimensi itu dibuktikan oleh Soedarmaji. Malam itu ia juga bercerita bahwa sampai saat ini Maulana masih kerap datang mengajarnya. Soedarmaji masih dapat belajar pra dan pasca Maulana wafat ma’rifat. Soedarmaji hanya satu dari sekian murid misterius yang telah mendapat pendidikan langsung dari Maulana baik saat beliau hayat maupun setelah wafat.
Ini adalah cermin yang menggambarkan bahwa Maulana al-Syaikh bukan manusia biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru orang Pancor, bukan pula tuan guru yang paling alim di Lombok. Maulana al-Syaikh bukan ulama biasa bukan pula pendidik biasa. Soedarmaji telah membuktikan itu dan bukti pendidikan istimewa yang telah diraihnya. Ia menyatakan – secara tidak langsung - kedatangannya ke Majlis bersama Ummi sore itu adalah penjelasan yang sharih atau jelas dan terang bahwa Maulana al-Syaikh adalah guru yang tidak dapat digambarkan dengan nalar cendekia.
Majlis merenung bahwa gelisah hati Soedarmaji dalam kecintaan mendalam terhadap istrinya tampak-nya dirasakan oleh seorang sosok agung dari Lombok ketika melintas di langit Jawa. Upaya pantang menyerah untuk mengobati sakit yang diderita kekasihnya itu tampaknya jelas diketahui oleh Maulana al-Syaikh. Lewat alam kewalian dan hadir secara badaniah itu pula Maulana al-Syaikh datang ke altar gereja menemui Soe dan menitipkan obat bagi istrinya. "Shalat-shalat-shalat".
Jika saja hanya sebatas membantu Soe menepis gundah dan rasa bersalah pada istrinya, maka mengapa Maulana al-Syaikh kemudian harus datang mengajar-nya. Mengapa Maulana al-Syaikh menyempatkan diri mengajar lelaki petualang itu dalam kondisi iman islami belum lagi dirasukkan ke jiwanya.
Mengapa pula Maulana al-Syaikh berkenan meraih tangan lelaki Katolik yang liar itu untuk kemudian diterimanya menjadi murid "simpanan"? Biarlah sudah tak usah dijawab teka-teki itu karena jelas Sang Maha Kuasa ingin menunjukkan kuasanya. Kuasa yang men-dera air mata. Kuasa yang tak pantas didekati dengan logika. Semua tentu di luar batas logika jauh dari wilayah nalar kita.
La haula wal quwwata illa billah.
Majlis juga merenungkan cerita Soe bahwa dia diajar oleh Maulana al-Syaikh di kampungnya dengan cara yang ia sendiri mengetahuinya mungkin bisa diletakkan sebagai perkara yang tidaklah terlampau aneh. Hal ini karena dalam banyak kasus para penuntut ilmu yang shalih kadang diajarkan oleh ulama atau wali dengan cara yang tidak dapat digambarkan sebagai pembelajaran duniawi.
Setelah caturwulan pertama dilaluinya ia diundang datang untuk melanjutkan pendidikannya di alam lahiriah. Ya, ia datang belajar langsung pada gurunya di al-Abrar untuk menjadikan dalil bahwa persuaan tiga bulan yang komplit memang nyata adanya. Kehadiran Maulana mengajarnya di Surabaya memang terjadi dan bukan mimpi. Maulana al-Syaikh sendiri yang menyapa-nya pertama kali saat datang itu sebagai pengakuan bahwa Maulana al-Syaikh memang gurunya yang selama tiga bulan lalu datang padanya. Inilah bukti bahwa Maulana al-Syaikh jelas dan zahir datang secara badaniah ke rumah Soedarmaji.
Hampir tidak dijumpai dalam sejarah orang yang diajar oleh seorang wali secara gaib pada saat sang wali masih hayat, lalu diundang datang untuk belajar secara nyata di alam zahir, lalu setelah wafatnya masih terus menerus diajar. Pengajarnya itu siapa? Kelas manusia apa? Dan ini nyata. Karamah seorang wali yang tiada putusnya, terasa dalam masa yang tak berdimensi meski setelah tak di dunia lagi.
Sahabat, seperti pengakuannya ia bukan orang baik-baik. Ia penganut Katolik. Ia terbiasa dalam kehidupan yang tak biasa. Lalu .... mengapa ia menjadi siswa khusus seorang waliyullah agung sekelas Maulana al-Syaikh. Jawabnya, itulah kuasa hidayah. Itulah kuasa kehendak. Ia bukan murid, namun murad. Ia bukan orang Nahdlatul Wathan namun yang jelas ia dijadikan santri oleh pemilik Nahdlatul Wathan. Ia dikehendaki untuk menjadi.
Soe adalah murid yang mendapat hikmah dari seorang ahli hikmah. Lalu atas kehendaknya ia datang kepada Ummi untuk menceritakan kebesaran Sang Ahli Hikmah, yang tak lain adalah al-Magfurulah.
Apa yang dapat disembunyikan jika Allah menghendaki.
Apa yang bisa dinafikan jika Ia menghendaki
Apa yang tidak bisa dengan kehendak-Nya
Apa yang tak bisa
Apa?


****
Cuplikan dari buku Karamah Cinta Maulana
Dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis: Muhammad Thohri, Lalu Muhyi Abidin, Khairi Yasri, Fahrurrozi, Zakaria, Zainuddin, Lalu Mustajab, Lalu Fauzi Hariadi, Nurkholis Muslim, Hurnawijaya Muhtamin, M. Gufran Haramain, Nurul Muttaqin
Kegiatan UAMBN MTs.  NW SIkur
TP. 2016/2017




" SEMOGA ALLAH SWT MELANCARKAN UJIANNYA "

Selasa, 21 Februari 2017

PELANTIKAN PRAMUKA MTs NW SIKUR

KEGIATAN PELANTIKAN 
ANGGOTA PRAMUKA BARU TAHUN 2016









Sabtu, 20 Agustus 2016

 
 MEMORI HUT RI KE-71



















Kamis, 07 Mei 2015

Rabu, 01 Oktober 2014

FORMAT K1 S/D K7 UNTUK BOS

contoh Format K1 s/d K7
BOS 

 Untuk Download klik pada Gambar

https://www.dropbox.com/s/ic2zvd4vj4se2q2/Contoh-Formulir-BOS-K1-K7D.xlsx?dl=0
 


APLIKASI 
" SPJ BOS "


UNTUK SEDOT ....KLIK PADA GAMBAR

Rabu, 27 Agustus 2014

       Ante alat utama le’ NW.
Ante alat dunia akherat lekan NW. Sai-sai berjase le’ NW  me’ syukuri sebab luek dengan celake anak cucune sebab luek kekentan dengan toakne.(Senin 11 Maret ’96)
( Kamu alat yang utama bagi Nahdlatul Wathan. Kamu semua alat ( pejuang ) dunia akherat asal NW. Siapa pun yang berjasa di NW, kamu harus syukuri sebab banyak orang yang celaka anak cucunya disebabkan karena tingkah orang tuanya di masa lalu )

Ante ( kamu anak-anak Ma'had ) alat utame le' NW. Kalimat ini terucap oleh Maulana Syaikh di hadapan tullab tholibat Ma'had DQH sebagai sebuah ungkapan rasa cinta dan sayang kepada anak – anak Ma'had sebagai sumber perjuangan.
Ma'had sebagai tumpuan harapan terdepan. Dengan Ma'had NW akan maju. Menyepelekan Ma'had NW akan luntur, karena ruh perjuangan itu ada pada MDQH yang telah dirintis oleh Maulana Syaikh sebagai tempat mengkader calon-calon ulama' handal masa depan.
Ma'had Darul Qur'an Wal-Hadits adalah kecintaan Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin abdul Madjid dan maha gurunya Al- Maghfurlah Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat. Bahkan Maulana Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi menyebutnya dalam syair :

لَهُ تَأَلِيْفٌ كَزَهْرِالرُّبَا
                   قَدْ ضَمَّتِ الشَّكْلَ اِلَى شَكْلِهِ
فِيْ سَاحَةِ الْعِلْمِ لَهُ مَعْهَدٌ
                   لاَ يَبْرَحُ الطُّلاَبُ فِيْ ظَلِّهِ
يَنْهَضُ بِالنَّشْءِ اِلَى مُسْتَوَى
                   بِذَلِكَ ألْمِعْرَاجِ مِنْ قَوْلِهِ
" Terdapat hasil karya bagaikan sekuntum bunga mawar di lereng gunung yang harum semerbak yang dapat memayungi bunga yang berbagai macam warnanya ( ragamnya) untuk membina kader-kader putra bangsa maka terbinalah Ma'had. Tidak ada tempat orang bernaung dengan sungguh-sungguh melainkan Ma'had menjadi jenjang menaiki sampai ke Mustawa dengan mi'raj sebagaimana yang dikatakannya…"

Setiap pagi Maulana Syaikh memberikan pengajian, keliling Lombok membina ummat agar tidak larut dengan kesenangan duniawi semata dan lupa kepada kepentingan akhirat. Ma'had adalah satu-satunya sumber dan bibit da'i yang  diperjuangkan oleh Maulana untuk menggerakkan semangat jihad, mengobarkan api perjuangan yang tak lapuk karena hujan dan panas.
Begitu besar jasa Maulana Syaikh mendirikan Ma'had DQH. Jasa beliau tidak boleh terlupakan bagi siapapun yang mengerti kebenaran dan memahami arti sejarah. Kita sepatutnya bersyukur dan bersyukur, adanya Ma'had mengangkat dan mengharumkan nama organisasi Nahdlatul Wathan. Pada hari Ahad, 24 Agustus 1997 Maulana Syaikh pernah mengatakan : " Taokne numpuk kesyukuranku le' Ma'had ".
Safari-safari Ramadhan yang dilakukan oleh tullab ma'had setiap tahun ke berbagai pelosok nusantara merupakan buah bukti bentuk perjuangan dan keberanian tullab Ma'had untuk menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tullab Ma'had banyak yang melanjutkan studinya ke Madrasah Ash-Shaulatiyyah Makkah Al-Mukarromah tempat dimana Al-Maghfurulah Maulana Syaikh dulu belajar.
Keberhasilan dan kemajuan ini tidak boleh dilupakan oleh orang tua, anak cucu dan generasi-generasi penerus perjuangan di masa-masa yang akan datang. Dalam wasiat Maulana menyebut :

Aduh sayang  !
Jangan anakku menutup mata
Tidak peduli bukti yang nyata
Jangan anakku berlagak buta
Sengaja melupa hubungan kita

4. Embe taok muridku si’ bani bebantelan dunia akherat. Luean si mentingang  dirikne doang. ( 20 Maret ’96 )
     ( Manakah muridku yang berani berjuang dunia akhirat/lillahi ta'ala. Lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri )

Bani bebantelan dunia akhirat ( Berani sehidup semati dunia akhirat ).
Guru adalah orang tua rohani, sedangkan ibu bapak adalah orang tua jasmani ( yang melahirkan kita ). Guru merupakan jalan untuk kita mengerti bagaimana kekuasaan Allah, bagaimana keagungan Allah, sehingga kita memahami apa yang seharusnya kita perbuat dan tinggalkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Seseorang tidak akan memperoleh kesuksesan dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat apabila ia tidak menghormati gurunya dan ilmu itu sendiri. Dalam Kitab Ta'limul Muta'allim disebutkan :

ماَ وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلاَّ بِالحْرُْمَةِ وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ وَالتَّعْظِيْمِ .
Artinya : Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengangungkan sesuatu itu,  dan gagalnya juga hanya karena tidak mau mengagungkannya.
اَلاَ تَرَى اَنَّ اْلاِانْسَانَ لاَ يَكْفُرُ بِالْمَعْصِيَةِ وَاِنَّمَا يَكْفُرُ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.
Artinya : Tidaklah Anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir lantaran ma'siatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.

            Kesalahan yang terbesar bagi penuntut ilmu apabila ia tidak menghormati gurunya, tidak menghormati keturunan gurunya, tidak menghormati orang yang bersangkut paut dengan gurunya.
            " Yang paling saya kasihani yang pernah saya ajar tetapi kelakuannya kurang ajar" . Kalimat ini Maulana Syaikh ungkapkan di depan tullab tholibat Ma'had pada hari Senin tanggal 8 September 1997.
Melupakan atau mementingkan diri sendiri setelah guru membina dan membimbing para santrinya ke jalan yang benar, tidak sepatutnya dilakukan bagi santri yang telah terdidik dan terbina, apalagi Maulana Syaikh sering mengingatkan :
" janganlah lalai janganlah lupa
  sekalipun nanda menjadi " bapa"
  sumber nikmat perlu dijaga
  selama hidup di alam fana

" aduh sayang !
  konon ada menjual gurunya
  menjual ibu serta bapaknya
  menjual NW serta madrasahnya
  na'uzubillah apa jadinya…..

" aduh sayang !
  kalau anakda ingat ilahi
  masakan anakda menggantung diri
  kalau anakda berhati murni
  masakan lupa ayahda sendiri

Memperjuangkan Nahdlatul Wathan tidak cukup ketika masih duduk di bangku sekolah atau perkuliahan. Derap langkah, gelora perjuangan untuk ummat harus tetap dipegang sampai akhir zaman. Karena setiap warga NW khususnya abituren telah  berjanji dan berbai'at akan tetap memperjuangkan Nahdlatul Wathan sampai akhir zaman. " Sabun kita adalah sabun i'tikad " ( Maulana Syaikh, Kamis, 9 Oktober 1997 )

5. Sai-sai taok makne wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup ite ngupa’ iye si’ Pulau Lombok, lagu’ sayang ndekne taok maknane.(Minggu 7 April ’96)
     ( Siapa-siapa yang mengetahui makna Wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup kita mengupah dia dengan pulau Lombok, akan tetapi sayang tidak ada yang tahu maknanya )

Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru ini dialamatkan :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Kepada yang tercinta:
1. Anakku semua abituren/pelajar Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ( NWDI ) dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah ( NBDI ).
2.   Saudaraku Keluarga Besar Nahdlatul Wathan ( NW ) yang setia

Dengan segala ketulusan hati Ayahanda sampaikan WASIAT RENUNGAN MASA PENGALAMAN BARU ini, untuk diamalkan/dilaksanakan sebagaimana mestinya. Wasiat ( nasehat) ini adalah cetusan jiwa pengalaman hidup Ayahanda selama ini dari masa ke masa.
Atas keikhlasan/kesetiaan anakku/saudaraku yang budiman, sebelumnya Ayahanda sampaikan terima kasih.
' WAMAN YUSABIH ABAHU FAMA DZOLAM"

WASSALAM
AYAHANDA AL-MUHIB

TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Pancor Bermi, 9 Dzulhijjah 1401 H/7 Oktober 1981 M
( Kutipan dari Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru hal. : 10 )

Wasiat Renungan Masa merupakan bukti cinta Maulana Syaikh kepada kita semua, cinta seorang ulama' kharismatik yang disegani karena keilmuannya. Keilmuan beliau tidak saja dikagumi oleh teman-teman sekelas beliau, akan tetapi guru-guru beliau juga sangat mengagumi kejeniusan Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muh. Zainuddin abdul Madjid. Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat, guru besar beliau sangat menyayangi dan mengagumi beliau. Beliau pernah mengatakan :

مَادَعَوْتُ اِلاَّ وَاَشْرَكْتُ زَيْنَ الدِّيْنِ مَعِى
" Aku tidak akan berdo'a kecuali kalau Zainuddin sudah terlihat jelas di depanku dan bersamaku "

Disamping itu, pernyataan eksplisit lainnya yang menggambarkan hubungan yang sngat dekat antara keduanya adalah :

اَنَا اُحِبُّ مَنْ يُحِبُّكَ وَلاَ اُحِبُّ مَنْ لاَ يُحِبُّكَ
" Aku mencintai setiap orang yang mencintaimu, dan ( begitu pula sebaliknya) aku tidak mencintai orang yang tidak mencintaimu "

Wasiat Renungan Masa tersebut merupakan pengalaman hidup beliau yang beliau tuangkan dalam bait-bait syair yang mempunyai makna yang sangat mendalam. Diksi yang beliau gunakan sangat pas dan menarik, menunjukkan bahwa beliau seorang sastrawan handal.
 Secara keseluruhan makna Wasiat Renungan Masa sulit dipahami, karena ada makna rahasia-rahasia yang maksudnya hanya diketahui oleh sesama para auliya' Allah. Contohnya dalam bait berikut :
" DEWI mengirim sebuah kelapa
   tinggi pohonnya lima ribu depa
   batu keliling tugasnya menjaga
   pulau Lombok selama-lamanya

  sangat ajaibnya pengambilan batu
  ia berpindah ke sana ke situ
  ngembalikannya secara tertentu
  diterimakan di atas perahu

Kamis, 03 April 2014

Fatwa Mulanasyaikh

Kumpulan Fatwa-Fatwa Tghk.M.Zainul Madjid

  Mudah-mudahan kamu bisa kompak utuh tidak bisa terkecoh dengan orang yang  tidak mengingat dirinya, orang tua dan gurunya dan tidak tergoda oleh antek-antek setan, keluarga setan, kuli setan dan mendapat taufiq hidayah masuk syurga bighoiri hisab. (Rabu 24 Maret 1996).


 Maulana Syaikh kini telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Rabb Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Segalanya. Beliau ditutup usianya pada hari Selasa, 20 Jumadil Akhir 1418 H / 21 Oktober 1997 M. meninggalkan kesan mendalam bagi seantero warga Nahdlatul Wathan,  tidak saja di dalam negeri akan tetapi kepergian beliau juga tembus sampai ke Timur Tengah, negerinya para nabi dan rasul. Rasa hati yang pilu tidak bisa terbendung, air mata menetes membasahi pipi, Maulana telah meninggalkan kita semua, meninggalkan beribu-ribu hikmah yang tertanam di bumi Rinjani. Akankah akan terlupakan mutiara-mutiara berharga, akankah teralpakan zamrud-zamrud molek yang terpercik rata membekas indah di kening-kening para pemikir, di dahi-dahi para pejuang, di tangan-tangan para penyelam lautan  hikmah. Subhanallah, senyum beliau mengalir, jiwa beliau kokoh dan tegar. Pada cita-cita beliau ada jutaan asa setinggi Himalaya dan Rinjani. Pada murid-murid beliau tertanam hamparan benua-benua yang akan tumbuh subur menghijau, menaungi tanah-tanah kering, menyegarkan lahan-lahan kerontang. Lalu tumbuh bunga-bunga harum dikelilingi embun bersih berkilau. Semerbak di seluruh pelosok negeri. Kita komit menegakkan perjuangan ini.

Kala hayat beliau, nasehat-nasehat mengalir dengan lantunan yang indah dan menawan bagai tetesan air mengalir menyejukkan hati yang gersang, bagai semburan sinar mentari pagi menerangi jagat yang masih kelam. Membangkitkan semangat dikala hati sedang rapuh dan pilu. Dikala ribuan insan-insan lemah mengharap dorongan dan stimulan. Beliau bangkit mengangkat tangan, menyeru untuk maju di tengah-tengah pertempuran. Serentak. Allohu Akbar. Jubah putih bersih selalu menemani dihiasi surban khas indah menawan. Gagah, berani dan santun. Dengan lembut doa-doa beliau menyelimuti segala penjuru dan berharap kita semua kompak, utuh dan bersatu untuk menegakkan agama melalui Nahdlatul Wathan.

Harapan itu masih ada dan tidak boleh kandas, tidak harus ambruk dengan hantaman badai, dentuman peluru, sabetan keris atau pedang. Hanya dengan keteguhan, keutuhan dalam kebersamaan dan persatuan yang tidak boleh lepas dan terlupakan, kita akan terbentuk menjadi manusia yang mengalami prosentasi secara HDI ( Human Development Index ) atau disebut juga IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ), manusia yang secara fisik dan ruh berkembang dengan ikatan-ikatan erat yang dibentuk para ulama’.

Saudara-saudaraku. Harapan-harapan beliau yang menyuruh warganya untuk kompak, utuh bersatu tidak pernah lepas dan tidak pernah dilupakan tatkala beliau mempunyai kesempatan baik  di majlis-majlis pengajian ataupun di tempat-tempat lain. Kalimat kompak, utuh, bersatulah terus didengungkan supaya menjadi perekat rasa kebersamaan yang beliau harapkan dari dunia sampai akhirat.

Sesungguhnya nilai beliau itu ada pada perbuatan baiknya, inovasi dan keunggulannya, pada ilmunya, pada kedermawanannya, pada kelembutan sikapnya, pada imannya, pada jihadnya, dalam sopan santunnya, dalam kemuliaannya dan sifat serta gelar yang baik-baik.

Dengan jemarinya yang lembut beliau menulis wasiat dalam Hizib Nahdlatul Wathan yang tercatat pada tanggal 23 Ramadhan 1376 H/23 Maret 1957 M. yang berbunyi :



اولادى الاوفياء.........وتلامذتى العقلاء

ان اكرمكم عندى.......انفعكم لنهضة الوطن

وان شركم عندى .......اضركم بنهضة الوطن

فصابروا ورابطوا وجاهدوا ثم جاهدوا فى سبيل نهضةالوطن لإعلاء كلمة الدين والوطن

تكون بحول الله تعلى من المجاهدين لدينه والبارين المخلصين فى السر والعلن.

 فتح الله علينا وعليكم ورزقنا واياكم والمحبين الحسنى وزيادة.

Anak-anakku yang setia  dan murid-muridku yang berakal.

" Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan".

Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, berjuang/kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara.

Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang shaleh dan muhklis baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.

Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu, dan semoga  Ia menganugerahi nikmat tambahan yang tiada taranya yaitu melihat zat-Nya dari dalam surga.



Kemudian dalam Wasiat Renungan Masa Maulana Syaikh menyebutkan pula :

" Wahai anakku kompak bersatu

   Jangan terpikat bujukan hantu

   Bersilat lidah setiap waktu

   Di balik udang batu di situ



" Bahwa iblis dua macamnya

   Yakni syaitan dan manusia

   Yang paling bahaya iblis kedua

   Karena lidahnya sangat berbisa



Maulana Syaikh mengharapkan kebersamaan sesama Islam, berjuang atas nama Allah tidak terpikat dengan bujukan syaitan yang nyata maupun tidak nyata


1.  Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2.  Raja manusia.

3.  Sembahan manusia.

4.  Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5.  Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

6.  Dari (golongan) jin dan manusia.





Hilangnya kebersamaan tidak jarang menimbulkan malapetaka dan perpecahan. Kejayaan Islam di masa lalu begitu disegani dan ditakuti oleh dunia barat baik dari seni arsitekturnya, budaya, ilmu perang, ilmu politik dan kegagahberanian tentaranya, sangat termasyhur pada masa itu. Sebut saja pada zaman bani Umayyah, bani Abbasiyah dan masa-masa kejayaan Islam yang tidak lain kemegahan dan kegemilangan itu diraih dengan rasa patriotisme dan semangat kebersamaan. Namun apa yang terjadi pada era sekarang, Islam tertindas di mana-mana, Irak negerinya hancur porak-poranda, Palestina menjerit. Beribu-ribu ummat Islam dibantai oleh kaum kafir laknatullah, tetapi Islam belum menunjukkan kekompakan secara utuh bahwa Islam itu kuat, Islam itu mempunyai solidaritas, bahwa sesama Islam di manapun berada adalah saudara kita. Ketika saudara kita tertindas, kita harus merasakan penderitaannya dan berani berbuat untuk membantu sesama. Yang terjadi justru hanya ada di beberapa negara kecil saja  yang peduli dan berani menyuarakan keberanian, itupun  sangat jauh dari negeri-negeri Islam yang dilanda bencana.

            Mari kita wujudkan rasa kebersamaan untuk kejayaan Islam, negara dan bangsa kita. Ingatlah Allah berfirman dalam Surat  Yunus : 19 :


 Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. ( Yunus 19 )



            Keberagaman makhluk di muka bumi bukanlah untuk dipertentangkan, akan tetapi sebagai wujud yang perlu dicerna untuk dipikirkan oleh kita bahwa kita adalah hamba yang memiliki kelebihan dari makhluk apapun. Perkhilafan pandangan bukan sebagai garis kebenaran mutlak untuk personal saja namun harus ada bukti yang mendukung bagaimana kadar keunggulan yang menunjang pendapat sesorang tersebut sehingga akan valid dan kuat keabsahan ide ataupun gagasan yang dituangkannya.

            Jika terjadi sebuah perbedaan, maka bukan harus diselesaikan dengan kekerasan, pengintimidasian,  ataupun  memblack list rival hingga menjatuhkannya. Tetapi yang sangat perlu, mari kita berfikir cerdas melalu kebijaksanaan berdasar keadilan, karena Allah sesungguhnya tidak menyukai perpecahan dan pembuat kerusakan, karena perpecahan hanya mengkacaukan peradaban di muka bumi. Bangsa Irak yang terkenal dengan keagungan dan kemegahannya pada masa-masa khalifah Abbasiyah harus tumbang karena hilangnya rasa persatuan dan kesatuan. Kerajaan Mongol yang tidak menyembah Allah mengapa mampu menumbangkan kekuatan Islam yang seharusnya jaya karena adanya kepercayaan bahwa Allah memberikan rahmat-Nya. Tapi sekali lagi kita mundur dan terbelakang karena Islam sudah hilang rasa persatuan dan kesatuannya.
Bangsa Barat sangat mudah memporak porandakan negeri-negeri Islam, meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah dan menghancurkan tempat-tempat penting yang menjadi tempat perkumpulan Islam. Dan negara-negara Islam masih belum membuka selimut beranjak menuju oase, membersihkan muka supaya lebih jernih menatap " apa yang harus aku lakukan untuk agama Islam ".

Kumpulan Fatwa TGKH. Zainuddin Abdul Madjid

Kumpulan Fatwa-Fatwa Tgkh.M. Zainul Madjid

1.      Jangan sekali diantara kamu memecah belah anakku yang dua (23 Februari ’96).
Nama Rauhun dan Raihanun Maulana Syaikh ambil dari salah satu surat dalam 
Al-Qur'an yaitu Surat Al-Waqi'ah ayat ke-89.

Artinya : Maka dia memperoleh ketenteraman              dan rezki jannah kenikmatan. (Al-Waqi'ah : 89 )
Dua nama tersebut diharapkan oleh beliau benar-benar menjadi ketentraman dan pemerolehan rizki yang bermanfaat baik untuk keluarga, bangsa dan negara. Dua bunga yang tumbuh harum mewangi semerbak, yang harumnya mampu menyapu bau asap pekat negeri ini.
Pondok Pesantren Darun Nahdlatain NW Pancor dan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, dua pondok pesantren tempat beliau menanam benih yang melahirkan tunas-tunas baru dan berharap menjadi mercusuar di daerah Timur pulau Lombok  menjadi kapal untuk mengarungi lautan luas. Keduanya pula tidak boleh tergores atau terluka karena keduanya adalah bunga yang memberikan keharuman dan nakhoda yang mengantarkan hingga sampai pada tujuan.
Ketika kering melanda, ia rela menyiramkan air, ketika banjir datang ia rela menjadi yang terdepan untuk menghadang, ketika lapar dan haus menjelma, ia tiada berlagak buta. Keharmonisan dalam kebijakan, biarkan berbuah kenyamanan. Keakuran dan kebersamaan, tetapkan beriringan karena ia adalah satu untuk selalu menyatu meski beraneka rintangan tertumpuk berbatu.