Laman
Senin, 09 November 2020
Senin, 23 Juli 2018
visi misi dan tujuan madrasah
Visi, Misi dan
Tujuan MTs. NW Sikur
Sesuai dengan prinsip-prinsip
pengembangan dan Acuan operasional penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan / kurikulum 2013 maka, Kurikulum MTs. NW Sikur
disusun untuk memungkinkan penyesuaian
program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah. MTs. NW
Sikur sebagai unit penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan
perkembangan dan tantangan masa depan. Perkembangan dan tantangan itu misalnya
menyangkut: (1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) globalisasi
yang memungkinkan sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas
sektor serta tempat, (3) era informasi,
(4) pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral manusia,
(5) berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan, (6) dan
era perdagangan bebas.
Tantangan sekaligus peluang
itu harus direspon oleh sekolah melalui visi sekolah dan diharapkan semua
stakeholders dapat menghayati dan
bersama sama mewujudkan visi tersebut.
Visi, Misi,
Indikator Visi dan Tujuan Sekolah
1.
VISI
Terwujudnya manusia yang cerdas,
terampil, berbudaya, mandiri, berdasarkan iptek dan imtaq
2. INDIKATOR
- Unggul Dalam Kedisiplinan
- Unggul Dalam Prestasi Belajar
- Unggul Dalam Berkreasi
- Unggul Dalam Kegiatan Agama
- Unggul Dalam Bidang Olah Raga
3. MISI
- Menanamkan sikap disiplin dalam
proses Belajar Mengajar
- Mendorong dan menumbuhkan
semanagt belajar untuk mencapai prestasi
- Menciptakan suasana belajar yang
efektif, aktif, kreatif, inovatif, dan menyenagkan
- Mendorong dan membantu siswa
mengenal potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara lebih
optimal untuk dapat hidup mandiri di kemudian hari.
- Menumbuh kembangkan sikap
penghayatan dan pengamalan nilai-nilai ajaran agama islam dalam kehidupan
sehari-hari.
- Menerapkan managemen partisifatif
dengan melibatkan semua warga sekolah dan komite sekolah/Madrasah.
TUJUAN
- Peningkatan nilai dalam setiap
Ujian nasional dan Sekolah pada setiap mata pelajaran.
- Peningkatan angka melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi.
- Mampu bersaing dan menjadi juara
dalam lomba-lomba minimal ditingkat Kecamatan
- Meningkatakan pengamalan
nilai-nilai agama dalam kehidupan.
3. Tujuan (6 Tahun)
3.1
. Tersedianya
system pengembangan kreatifitas yang berkelanjutan
3.2
.
Tersedianya kurikulum kreatifitas
3.3
. Tersedianya
Renstra (Rencana Strategis)
3.4
. Tersedianya
SOP (Standar Operasional
Prosedur)
3.5
. Terlaksananya
pembinaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan secara berkelanjutan
3.6
. Terlaksananya
rekrutmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai standart
3.7
. Terwujudnya
lingkungan sekolah yang kondusif untuk
belajar
3.8
. Terlaksananya
pembinaan aqidah dan akhlaqul karimah bagi murid
3.9
.
Tersedianya sistim pembinaan
menuju sikap kompetitif era globalisasi
3.10
. Terlaksananya kegiatan
mengikuti olimpiade-olimpiade
3.11
.
Tersedianya sistem
pengembangan pembelajaran berbasis teknologi
3.12
. Terlaksananya
Pembelajaran yang menerapkan ketrampilan dan percobaan serta penelitian
3.13
. Terlaksananya sistem
untuk mengembangkan life skill
3.14
.
Terlaksananya model multiple
intelligence dalam pembelajaran
3.15
. Tersedianya
sistem pembinaan siswa peduli lingkungan hidup
3.16
. Terlaksananya
kurikulum Kelestarian Lingkungan hidup
3.17
. Melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran
3.18
. Memelihara prasarana pendidikan
3.19
. Menciptakan
lingkungan 7K (keamanan, ketertiban,
kebersihan,
keindahan,
kerindangan, kedisiplinan, kesehatan, dan kekeluargaan)
·
Merealisasikan upaya keamanan sekolah
·
Merealisasikan ketertiban di lingkungan sekolah
·
Merealisasikan kebersihan sekolah
·
Menjaga keindahan sekolah
·
Merealisasikan kerindangan pepohonan di lingkungan sekolah
·
Menegakkan kedisiplinan bagi setiap warga sekolah
·
Merealisasikan UKS
·
Memelihara kekeluargaan
3.20
. Mengembangkan metode-metode penilaian pembelajaran yang
autentik
·
Melaksanakan
kegiatan penyusunan perangkat penilaian sesuai metode-metode penilaian berbasis
kelas
a.
Melaksanakan evaluasi di
tingkat kelas dan sekolah
·
Merealisasikan
sistem penilaian berbasis kelas
·
Merealisasikan
penilaian sekolah
·
Merealisasikan
standar penilaian sesuai standar kopetensi lulusan
Selasa, 11 April 2017
"Eyang, ilmu segitu banyaknya diwariskan ke siapa?" "Saya berikan cucuku, Zainuddin II. Dia punya kecerdasan tiga kali lipat" (Dialog Soe dan Maulana)
Selepas "kursus bulanan" itu, ia pun datang ke kediaman gurunya di Pancor Lombok Timur. Ia me-nyampaikan amanat yang diterimanya dahulu dari laki-laki yang mengajarnya. Pesan laki-laki itu: "kembalikan foto ini kepada saya setelah tiga bulan". Sesampainya di al-Abrar, ia tercengang. Disaksikannya lautan putih dan putih dalam balutan gamis dan kain yakni mahasiswa MDQH yang sedang belajar. Ia ragu mematung di depan mushalla itu. Ia canggung dengan balutan jeans dan kaos oblong yang dikenakannya.
Tepat di depan pintu rumah gurunya itu, ia pun tertegun. Wajah lelaki yang mengajarnya dalam rupa waktu dan tempat yang tidak bisa dinarasikan kata dan nalar itu ternyata persis seperti apa yang disaksikannya kini. Ia menyaksikan lelaki itu ternyata sesuai dengan lelaki yang mengajarnya. Ia awalnya juga sangsi bahwa apakah ia akan dikenal atau mungkin saja tetap dikenal namun tidak akan diterima. Ia ragu pada penampilan-nya yang jauh dari kesan santri seorang wali.
Senyum sapa sang Guru yang tak lain adalah Maulana al-Syaikh membuat ia takluk. Ia pun disapa dengan canda layaknya persuaan demi persuaan berbulan-bulan sebelumnya. "Hei, kamu jangan nakal, sini masuk, kamu diam sini, kamu belajar di sini", sapa Maulana seperti dituturkannya. Soedarmaji kemudian tinggal belajar menjadi murid di alam zahir selama beberapa minggu. Ia membandingkan sendiri gurunya di alam yang dia sendiri tidak mampu melukisnya dan di alam yang dapat dihadiri oleh ribuan manusia.
Ia bercerita bahwa di rumah gurunya tidak ada yang serius dikerjakannya. Disana ia tidak "serius" mengaji tetapi banyak diajak bercanda oleh gurunya. Disitulah kemudian ia mendapatkan stempel kemuridan. "Sini kamu saya stempel lidahmu", kata Maulana. Lidahnya ditulis oleh Maulana al-Syaikh dengan tulisan yang tidak dimengertinya. Setelah tulisan itulah ia dengan leluasa menyampaikan pesan-pesan agama bahkan dengan spontan dapat menyampaikan dalil dari nash Quran dan Hadits sesuai keperluannya.
Sepulang dari belajarnya itu, ia pun memantapkan dirinya untuk meninggalkan dunia angin yang mendera indah dalam pesona matahari di buritan kapal. Dia tinggalkan kehidupan glamor dengan makanan dan minuman yang melenakan. Ia sudahi berhubungan dengan sekian jenis perilaku tak terpuji di hadapan tuhan. Langit masih menyisakan daratan tempat menambatkan iman dan kuasa Allah yang memper-temukan ia dengan raja wali dari Lombok Anfanan.
Lelaki eks-Katolik itu akhirnya memilih jalan dakwah dibandingkan menjadi penginjil. Ia menjadi pendakwah alih-alih menjadi pengkhutbah seperti Mati-us dan Lukas. Logika dan nalar keislamannya mengalir seolah pernah belajar agama dalam waktu yang lama. Ayat dan Hadits dituturnya seolah ia pernah mengkaji tafsir hadits dalam waktu yang lama pula. Ia tuturkan bahwa ia memiliki jamaah dari kalangan jetset dan mampu menyadarkan ratusan orang dari keterpurukan iman dan meraihnya dari perilaku keterpurukan.
Ia menjadi konsultan iman bagi ratusan pimpinan perusahaan, ia menjadi kiyai di gedung-gedung kantor bahkan pejabat tinggi. Ia mampu mengislamkan ratusan orang terutama keluarga besarnya. Ia menuturkan bahwa lingkungan kristiani di kampungnya telah berubah menjadi keluarga muslim setelah sebelumnya ia dianggap gila dan terkucilkan.
Banyak keajaiban demi keajaiban muncul saat Maulana hilang dari pelupuk mata. Maulana tidak lagi hadir sebagai sosok yang telah mengajarkan secara lahiriah tetapi juga ternyata Maulana lebih dari sekadar yang dikenalkan sejarah manusia biasa. Maulana al-Syaikh tutup usia dalam dimensi waktu duniawi namun masih tetap hadir mengajar para muridnya.
Maulana masih mengajar saat ini. Maulana masih hayat, hayat ma’rifat. Hayat tanpa dimensi ruang dan waktu duniawi. Waktu dan tempat tanpa dimensi itu dibuktikan oleh Soedarmaji. Malam itu ia juga bercerita bahwa sampai saat ini Maulana masih kerap datang mengajarnya. Soedarmaji masih dapat belajar pra dan pasca Maulana wafat ma’rifat. Soedarmaji hanya satu dari sekian murid misterius yang telah mendapat pendidikan langsung dari Maulana baik saat beliau hayat maupun setelah wafat.
Ini adalah cermin yang menggambarkan bahwa Maulana al-Syaikh bukan manusia biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru orang Pancor, bukan pula tuan guru yang paling alim di Lombok. Maulana al-Syaikh bukan ulama biasa bukan pula pendidik biasa. Soedarmaji telah membuktikan itu dan bukti pendidikan istimewa yang telah diraihnya. Ia menyatakan – secara tidak langsung - kedatangannya ke Majlis bersama Ummi sore itu adalah penjelasan yang sharih atau jelas dan terang bahwa Maulana al-Syaikh adalah guru yang tidak dapat digambarkan dengan nalar cendekia.
Majlis merenung bahwa gelisah hati Soedarmaji dalam kecintaan mendalam terhadap istrinya tampak-nya dirasakan oleh seorang sosok agung dari Lombok ketika melintas di langit Jawa. Upaya pantang menyerah untuk mengobati sakit yang diderita kekasihnya itu tampaknya jelas diketahui oleh Maulana al-Syaikh. Lewat alam kewalian dan hadir secara badaniah itu pula Maulana al-Syaikh datang ke altar gereja menemui Soe dan menitipkan obat bagi istrinya. "Shalat-shalat-shalat".
Jika saja hanya sebatas membantu Soe menepis gundah dan rasa bersalah pada istrinya, maka mengapa Maulana al-Syaikh kemudian harus datang mengajar-nya. Mengapa Maulana al-Syaikh menyempatkan diri mengajar lelaki petualang itu dalam kondisi iman islami belum lagi dirasukkan ke jiwanya.
Mengapa pula Maulana al-Syaikh berkenan meraih tangan lelaki Katolik yang liar itu untuk kemudian diterimanya menjadi murid "simpanan"? Biarlah sudah tak usah dijawab teka-teki itu karena jelas Sang Maha Kuasa ingin menunjukkan kuasanya. Kuasa yang men-dera air mata. Kuasa yang tak pantas didekati dengan logika. Semua tentu di luar batas logika jauh dari wilayah nalar kita.
La haula wal quwwata illa billah.
Majlis juga merenungkan cerita Soe bahwa dia diajar oleh Maulana al-Syaikh di kampungnya dengan cara yang ia sendiri mengetahuinya mungkin bisa diletakkan sebagai perkara yang tidaklah terlampau aneh. Hal ini karena dalam banyak kasus para penuntut ilmu yang shalih kadang diajarkan oleh ulama atau wali dengan cara yang tidak dapat digambarkan sebagai pembelajaran duniawi.
Setelah caturwulan pertama dilaluinya ia diundang datang untuk melanjutkan pendidikannya di alam lahiriah. Ya, ia datang belajar langsung pada gurunya di al-Abrar untuk menjadikan dalil bahwa persuaan tiga bulan yang komplit memang nyata adanya. Kehadiran Maulana mengajarnya di Surabaya memang terjadi dan bukan mimpi. Maulana al-Syaikh sendiri yang menyapa-nya pertama kali saat datang itu sebagai pengakuan bahwa Maulana al-Syaikh memang gurunya yang selama tiga bulan lalu datang padanya. Inilah bukti bahwa Maulana al-Syaikh jelas dan zahir datang secara badaniah ke rumah Soedarmaji.
Hampir tidak dijumpai dalam sejarah orang yang diajar oleh seorang wali secara gaib pada saat sang wali masih hayat, lalu diundang datang untuk belajar secara nyata di alam zahir, lalu setelah wafatnya masih terus menerus diajar. Pengajarnya itu siapa? Kelas manusia apa? Dan ini nyata. Karamah seorang wali yang tiada putusnya, terasa dalam masa yang tak berdimensi meski setelah tak di dunia lagi.
Sahabat, seperti pengakuannya ia bukan orang baik-baik. Ia penganut Katolik. Ia terbiasa dalam kehidupan yang tak biasa. Lalu .... mengapa ia menjadi siswa khusus seorang waliyullah agung sekelas Maulana al-Syaikh. Jawabnya, itulah kuasa hidayah. Itulah kuasa kehendak. Ia bukan murid, namun murad. Ia bukan orang Nahdlatul Wathan namun yang jelas ia dijadikan santri oleh pemilik Nahdlatul Wathan. Ia dikehendaki untuk menjadi.
Soe adalah murid yang mendapat hikmah dari seorang ahli hikmah. Lalu atas kehendaknya ia datang kepada Ummi untuk menceritakan kebesaran Sang Ahli Hikmah, yang tak lain adalah al-Magfurulah.
Apa yang dapat disembunyikan jika Allah menghendaki.
Apa yang bisa dinafikan jika Ia menghendaki
Apa yang tidak bisa dengan kehendak-Nya
Apa yang tak bisa
Apa?
****
Cuplikan dari buku Karamah Cinta Maulana
Dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis: Muhammad Thohri, Lalu Muhyi Abidin, Khairi Yasri, Fahrurrozi, Zakaria, Zainuddin, Lalu Mustajab, Lalu Fauzi Hariadi, Nurkholis Muslim, Hurnawijaya Muhtamin, M. Gufran Haramain, Nurul Muttaqin
Tepat di depan pintu rumah gurunya itu, ia pun tertegun. Wajah lelaki yang mengajarnya dalam rupa waktu dan tempat yang tidak bisa dinarasikan kata dan nalar itu ternyata persis seperti apa yang disaksikannya kini. Ia menyaksikan lelaki itu ternyata sesuai dengan lelaki yang mengajarnya. Ia awalnya juga sangsi bahwa apakah ia akan dikenal atau mungkin saja tetap dikenal namun tidak akan diterima. Ia ragu pada penampilan-nya yang jauh dari kesan santri seorang wali.
Senyum sapa sang Guru yang tak lain adalah Maulana al-Syaikh membuat ia takluk. Ia pun disapa dengan canda layaknya persuaan demi persuaan berbulan-bulan sebelumnya. "Hei, kamu jangan nakal, sini masuk, kamu diam sini, kamu belajar di sini", sapa Maulana seperti dituturkannya. Soedarmaji kemudian tinggal belajar menjadi murid di alam zahir selama beberapa minggu. Ia membandingkan sendiri gurunya di alam yang dia sendiri tidak mampu melukisnya dan di alam yang dapat dihadiri oleh ribuan manusia.
Ia bercerita bahwa di rumah gurunya tidak ada yang serius dikerjakannya. Disana ia tidak "serius" mengaji tetapi banyak diajak bercanda oleh gurunya. Disitulah kemudian ia mendapatkan stempel kemuridan. "Sini kamu saya stempel lidahmu", kata Maulana. Lidahnya ditulis oleh Maulana al-Syaikh dengan tulisan yang tidak dimengertinya. Setelah tulisan itulah ia dengan leluasa menyampaikan pesan-pesan agama bahkan dengan spontan dapat menyampaikan dalil dari nash Quran dan Hadits sesuai keperluannya.
Sepulang dari belajarnya itu, ia pun memantapkan dirinya untuk meninggalkan dunia angin yang mendera indah dalam pesona matahari di buritan kapal. Dia tinggalkan kehidupan glamor dengan makanan dan minuman yang melenakan. Ia sudahi berhubungan dengan sekian jenis perilaku tak terpuji di hadapan tuhan. Langit masih menyisakan daratan tempat menambatkan iman dan kuasa Allah yang memper-temukan ia dengan raja wali dari Lombok Anfanan.
Lelaki eks-Katolik itu akhirnya memilih jalan dakwah dibandingkan menjadi penginjil. Ia menjadi pendakwah alih-alih menjadi pengkhutbah seperti Mati-us dan Lukas. Logika dan nalar keislamannya mengalir seolah pernah belajar agama dalam waktu yang lama. Ayat dan Hadits dituturnya seolah ia pernah mengkaji tafsir hadits dalam waktu yang lama pula. Ia tuturkan bahwa ia memiliki jamaah dari kalangan jetset dan mampu menyadarkan ratusan orang dari keterpurukan iman dan meraihnya dari perilaku keterpurukan.
Ia menjadi konsultan iman bagi ratusan pimpinan perusahaan, ia menjadi kiyai di gedung-gedung kantor bahkan pejabat tinggi. Ia mampu mengislamkan ratusan orang terutama keluarga besarnya. Ia menuturkan bahwa lingkungan kristiani di kampungnya telah berubah menjadi keluarga muslim setelah sebelumnya ia dianggap gila dan terkucilkan.
Banyak keajaiban demi keajaiban muncul saat Maulana hilang dari pelupuk mata. Maulana tidak lagi hadir sebagai sosok yang telah mengajarkan secara lahiriah tetapi juga ternyata Maulana lebih dari sekadar yang dikenalkan sejarah manusia biasa. Maulana al-Syaikh tutup usia dalam dimensi waktu duniawi namun masih tetap hadir mengajar para muridnya.
Maulana masih mengajar saat ini. Maulana masih hayat, hayat ma’rifat. Hayat tanpa dimensi ruang dan waktu duniawi. Waktu dan tempat tanpa dimensi itu dibuktikan oleh Soedarmaji. Malam itu ia juga bercerita bahwa sampai saat ini Maulana masih kerap datang mengajarnya. Soedarmaji masih dapat belajar pra dan pasca Maulana wafat ma’rifat. Soedarmaji hanya satu dari sekian murid misterius yang telah mendapat pendidikan langsung dari Maulana baik saat beliau hayat maupun setelah wafat.
Ini adalah cermin yang menggambarkan bahwa Maulana al-Syaikh bukan manusia biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru biasa. Maulana al-Syaikh bukan tuan guru orang Pancor, bukan pula tuan guru yang paling alim di Lombok. Maulana al-Syaikh bukan ulama biasa bukan pula pendidik biasa. Soedarmaji telah membuktikan itu dan bukti pendidikan istimewa yang telah diraihnya. Ia menyatakan – secara tidak langsung - kedatangannya ke Majlis bersama Ummi sore itu adalah penjelasan yang sharih atau jelas dan terang bahwa Maulana al-Syaikh adalah guru yang tidak dapat digambarkan dengan nalar cendekia.
Majlis merenung bahwa gelisah hati Soedarmaji dalam kecintaan mendalam terhadap istrinya tampak-nya dirasakan oleh seorang sosok agung dari Lombok ketika melintas di langit Jawa. Upaya pantang menyerah untuk mengobati sakit yang diderita kekasihnya itu tampaknya jelas diketahui oleh Maulana al-Syaikh. Lewat alam kewalian dan hadir secara badaniah itu pula Maulana al-Syaikh datang ke altar gereja menemui Soe dan menitipkan obat bagi istrinya. "Shalat-shalat-shalat".
Jika saja hanya sebatas membantu Soe menepis gundah dan rasa bersalah pada istrinya, maka mengapa Maulana al-Syaikh kemudian harus datang mengajar-nya. Mengapa Maulana al-Syaikh menyempatkan diri mengajar lelaki petualang itu dalam kondisi iman islami belum lagi dirasukkan ke jiwanya.
Mengapa pula Maulana al-Syaikh berkenan meraih tangan lelaki Katolik yang liar itu untuk kemudian diterimanya menjadi murid "simpanan"? Biarlah sudah tak usah dijawab teka-teki itu karena jelas Sang Maha Kuasa ingin menunjukkan kuasanya. Kuasa yang men-dera air mata. Kuasa yang tak pantas didekati dengan logika. Semua tentu di luar batas logika jauh dari wilayah nalar kita.
La haula wal quwwata illa billah.
Majlis juga merenungkan cerita Soe bahwa dia diajar oleh Maulana al-Syaikh di kampungnya dengan cara yang ia sendiri mengetahuinya mungkin bisa diletakkan sebagai perkara yang tidaklah terlampau aneh. Hal ini karena dalam banyak kasus para penuntut ilmu yang shalih kadang diajarkan oleh ulama atau wali dengan cara yang tidak dapat digambarkan sebagai pembelajaran duniawi.
Setelah caturwulan pertama dilaluinya ia diundang datang untuk melanjutkan pendidikannya di alam lahiriah. Ya, ia datang belajar langsung pada gurunya di al-Abrar untuk menjadikan dalil bahwa persuaan tiga bulan yang komplit memang nyata adanya. Kehadiran Maulana mengajarnya di Surabaya memang terjadi dan bukan mimpi. Maulana al-Syaikh sendiri yang menyapa-nya pertama kali saat datang itu sebagai pengakuan bahwa Maulana al-Syaikh memang gurunya yang selama tiga bulan lalu datang padanya. Inilah bukti bahwa Maulana al-Syaikh jelas dan zahir datang secara badaniah ke rumah Soedarmaji.
Hampir tidak dijumpai dalam sejarah orang yang diajar oleh seorang wali secara gaib pada saat sang wali masih hayat, lalu diundang datang untuk belajar secara nyata di alam zahir, lalu setelah wafatnya masih terus menerus diajar. Pengajarnya itu siapa? Kelas manusia apa? Dan ini nyata. Karamah seorang wali yang tiada putusnya, terasa dalam masa yang tak berdimensi meski setelah tak di dunia lagi.
Sahabat, seperti pengakuannya ia bukan orang baik-baik. Ia penganut Katolik. Ia terbiasa dalam kehidupan yang tak biasa. Lalu .... mengapa ia menjadi siswa khusus seorang waliyullah agung sekelas Maulana al-Syaikh. Jawabnya, itulah kuasa hidayah. Itulah kuasa kehendak. Ia bukan murid, namun murad. Ia bukan orang Nahdlatul Wathan namun yang jelas ia dijadikan santri oleh pemilik Nahdlatul Wathan. Ia dikehendaki untuk menjadi.
Soe adalah murid yang mendapat hikmah dari seorang ahli hikmah. Lalu atas kehendaknya ia datang kepada Ummi untuk menceritakan kebesaran Sang Ahli Hikmah, yang tak lain adalah al-Magfurulah.
Apa yang dapat disembunyikan jika Allah menghendaki.
Apa yang bisa dinafikan jika Ia menghendaki
Apa yang tidak bisa dengan kehendak-Nya
Apa yang tak bisa
Apa?
****
Cuplikan dari buku Karamah Cinta Maulana
Dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis: Muhammad Thohri, Lalu Muhyi Abidin, Khairi Yasri, Fahrurrozi, Zakaria, Zainuddin, Lalu Mustajab, Lalu Fauzi Hariadi, Nurkholis Muslim, Hurnawijaya Muhtamin, M. Gufran Haramain, Nurul Muttaqin
Selasa, 21 Februari 2017
Sabtu, 20 Agustus 2016
Kamis, 07 Mei 2015
Rabu, 01 Oktober 2014
Rabu, 27 Agustus 2014
Ante alat utama le’ NW.
Ante alat dunia akherat lekan NW. Sai-sai berjase le’ NW me’ syukuri sebab luek dengan celake anak cucune sebab luek kekentan dengan toakne.(Senin 11 Maret ’96)
(
Kamu alat yang utama bagi Nahdlatul Wathan. Kamu semua alat ( pejuang )
dunia akherat asal NW. Siapa pun yang berjasa di NW, kamu harus syukuri
sebab banyak orang yang celaka anak cucunya disebabkan karena tingkah
orang tuanya di masa lalu )
Ante
( kamu anak-anak Ma'had ) alat utame le' NW. Kalimat ini terucap oleh
Maulana Syaikh di hadapan tullab tholibat Ma'had DQH sebagai sebuah
ungkapan rasa cinta dan sayang kepada anak – anak Ma'had sebagai sumber
perjuangan.
Ma'had
sebagai tumpuan harapan terdepan. Dengan Ma'had NW akan maju.
Menyepelekan Ma'had NW akan luntur, karena ruh perjuangan itu ada pada
MDQH yang telah dirintis oleh Maulana Syaikh sebagai tempat mengkader
calon-calon ulama' handal masa depan.
Ma'had
Darul Qur'an Wal-Hadits adalah kecintaan Maulana Syaikh TGKH. M.
Zainuddin abdul Madjid dan maha gurunya Al- Maghfurlah Maulana Syaikh
Hasan Muhammad Al-Masysyat. Bahkan Maulana Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi
menyebutnya dalam syair :
لَهُ تَأَلِيْفٌ كَزَهْرِالرُّبَا
قَدْ ضَمَّتِ الشَّكْلَ اِلَى شَكْلِهِ
فِيْ سَاحَةِ الْعِلْمِ لَهُ مَعْهَدٌ
لاَ يَبْرَحُ الطُّلاَبُ فِيْ ظَلِّهِ
يَنْهَضُ بِالنَّشْءِ اِلَى مُسْتَوَى
بِذَلِكَ ألْمِعْرَاجِ مِنْ قَوْلِهِ
"
Terdapat hasil karya bagaikan sekuntum bunga mawar di lereng gunung
yang harum semerbak yang dapat memayungi bunga yang berbagai macam
warnanya ( ragamnya) untuk membina kader-kader putra bangsa maka
terbinalah Ma'had. Tidak ada tempat orang bernaung dengan
sungguh-sungguh melainkan Ma'had menjadi jenjang menaiki sampai ke
Mustawa dengan mi'raj sebagaimana yang dikatakannya…"
Setiap
pagi Maulana Syaikh memberikan pengajian, keliling Lombok membina ummat
agar tidak larut dengan kesenangan duniawi semata dan lupa kepada
kepentingan akhirat. Ma'had adalah satu-satunya sumber dan bibit da'i
yang diperjuangkan oleh Maulana untuk menggerakkan semangat jihad, mengobarkan api perjuangan yang tak lapuk karena hujan dan panas.
Begitu
besar jasa Maulana Syaikh mendirikan Ma'had DQH. Jasa beliau tidak
boleh terlupakan bagi siapapun yang mengerti kebenaran dan memahami arti
sejarah. Kita sepatutnya bersyukur dan bersyukur, adanya Ma'had
mengangkat dan mengharumkan nama organisasi Nahdlatul Wathan. Pada hari
Ahad, 24 Agustus 1997 Maulana Syaikh pernah mengatakan : " Taokne numpuk kesyukuranku le' Ma'had ".
Safari-safari
Ramadhan yang dilakukan oleh tullab ma'had setiap tahun ke berbagai
pelosok nusantara merupakan buah bukti bentuk perjuangan dan keberanian
tullab Ma'had untuk menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tullab Ma'had
banyak yang melanjutkan studinya ke Madrasah Ash-Shaulatiyyah Makkah
Al-Mukarromah tempat dimana Al-Maghfurulah Maulana Syaikh dulu belajar.
Keberhasilan
dan kemajuan ini tidak boleh dilupakan oleh orang tua, anak cucu dan
generasi-generasi penerus perjuangan di masa-masa yang akan datang.
Dalam wasiat Maulana menyebut :
Aduh sayang !
Jangan anakku menutup mata
Tidak peduli bukti yang nyata
Jangan anakku berlagak buta
Sengaja melupa hubungan kita
4. Embe taok muridku si’ bani bebantelan dunia akherat. Luean si mentingang dirikne doang. ( 20 Maret ’96 )
( Manakah muridku yang berani berjuang dunia akhirat/lillahi ta'ala. Lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri )
Bani bebantelan dunia akhirat ( Berani sehidup semati dunia akhirat ).
Guru
adalah orang tua rohani, sedangkan ibu bapak adalah orang tua jasmani (
yang melahirkan kita ). Guru merupakan jalan untuk kita mengerti
bagaimana kekuasaan Allah, bagaimana keagungan Allah, sehingga kita
memahami apa yang seharusnya kita perbuat dan tinggalkan dalam menjalani
kehidupan di dunia ini. Seseorang tidak akan memperoleh kesuksesan dan
tidak pula ilmunya dapat bermanfaat apabila ia tidak menghormati gurunya
dan ilmu itu sendiri. Dalam Kitab Ta'limul Muta'allim disebutkan :
ماَ وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلاَّ بِالحْرُْمَةِ وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ وَالتَّعْظِيْمِ .
Artinya : Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengangungkan sesuatu itu, dan gagalnya juga hanya karena tidak mau mengagungkannya.
اَلاَ تَرَى اَنَّ اْلاِانْسَانَ لاَ يَكْفُرُ بِالْمَعْصِيَةِ وَاِنَّمَا يَكْفُرُ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.
Artinya
: Tidaklah Anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir lantaran
ma'siatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.
Kesalahan
yang terbesar bagi penuntut ilmu apabila ia tidak menghormati gurunya,
tidak menghormati keturunan gurunya, tidak menghormati orang yang
bersangkut paut dengan gurunya.
" Yang paling saya kasihani yang pernah saya ajar tetapi kelakuannya kurang ajar" . Kalimat ini Maulana Syaikh ungkapkan di depan tullab tholibat Ma'had pada hari Senin tanggal 8 September 1997.
Melupakan
atau mementingkan diri sendiri setelah guru membina dan membimbing para
santrinya ke jalan yang benar, tidak sepatutnya dilakukan bagi santri
yang telah terdidik dan terbina, apalagi Maulana Syaikh sering
mengingatkan :
" janganlah lalai janganlah lupa
sekalipun nanda menjadi " bapa"
sumber nikmat perlu dijaga
selama hidup di alam fana
" aduh sayang !
konon ada menjual gurunya
menjual ibu serta bapaknya
menjual NW serta madrasahnya
na'uzubillah apa jadinya…..
" aduh sayang !
kalau anakda ingat ilahi
masakan anakda menggantung diri
kalau anakda berhati murni
masakan lupa ayahda sendiri
Memperjuangkan
Nahdlatul Wathan tidak cukup ketika masih duduk di bangku sekolah atau
perkuliahan. Derap langkah, gelora perjuangan untuk ummat harus tetap
dipegang sampai akhir zaman. Karena setiap warga NW khususnya abituren
telah berjanji dan berbai'at akan tetap memperjuangkan Nahdlatul Wathan sampai akhir zaman. " Sabun kita adalah sabun i'tikad " ( Maulana Syaikh, Kamis, 9 Oktober 1997 )
5.
Sai-sai taok makne wasiat Renungan Masa seluruhnya, sanggup ite ngupa’
iye si’ Pulau Lombok, lagu’ sayang ndekne taok maknane.(Minggu 7 April
’96)
(
Siapa-siapa yang mengetahui makna Wasiat Renungan Masa seluruhnya,
sanggup kita mengupah dia dengan pulau Lombok, akan tetapi sayang tidak
ada yang tahu maknanya )
Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru ini dialamatkan :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Kepada yang tercinta:
1.
Anakku semua abituren/pelajar Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah
Islamiyah ( NWDI ) dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah ( NBDI ).
2. Saudaraku Keluarga Besar Nahdlatul Wathan ( NW ) yang setia
Dengan
segala ketulusan hati Ayahanda sampaikan WASIAT RENUNGAN MASA
PENGALAMAN BARU ini, untuk diamalkan/dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Wasiat ( nasehat) ini adalah cetusan jiwa pengalaman hidup Ayahanda
selama ini dari masa ke masa.
Atas keikhlasan/kesetiaan anakku/saudaraku yang budiman, sebelumnya Ayahanda sampaikan terima kasih.
' WAMAN YUSABIH ABAHU FAMA DZOLAM"
WASSALAM
AYAHANDA AL-MUHIB
TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Pancor Bermi, 9 Dzulhijjah 1401 H/7 Oktober 1981 M
( Kutipan dari Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru hal. : 10 )
Wasiat
Renungan Masa merupakan bukti cinta Maulana Syaikh kepada kita semua,
cinta seorang ulama' kharismatik yang disegani karena keilmuannya.
Keilmuan beliau tidak saja dikagumi oleh teman-teman sekelas beliau,
akan tetapi guru-guru beliau juga sangat mengagumi kejeniusan
Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muh. Zainuddin abdul Madjid. Maulana
Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyat, guru besar beliau sangat menyayangi
dan mengagumi beliau. Beliau pernah mengatakan :
مَادَعَوْتُ اِلاَّ وَاَشْرَكْتُ زَيْنَ الدِّيْنِ مَعِى
" Aku tidak akan berdo'a kecuali kalau Zainuddin sudah terlihat jelas di depanku dan bersamaku "
Disamping itu, pernyataan eksplisit lainnya yang menggambarkan hubungan yang sngat dekat antara keduanya adalah :
اَنَا اُحِبُّ مَنْ يُحِبُّكَ وَلاَ اُحِبُّ مَنْ لاَ يُحِبُّكَ
" Aku mencintai setiap orang yang mencintaimu, dan ( begitu pula sebaliknya) aku tidak mencintai orang yang tidak mencintaimu "
Wasiat
Renungan Masa tersebut merupakan pengalaman hidup beliau yang beliau
tuangkan dalam bait-bait syair yang mempunyai makna yang sangat
mendalam. Diksi yang beliau gunakan sangat pas dan menarik, menunjukkan
bahwa beliau seorang sastrawan handal.
Secara
keseluruhan makna Wasiat Renungan Masa sulit dipahami, karena ada makna
rahasia-rahasia yang maksudnya hanya diketahui oleh sesama para auliya'
Allah. Contohnya dalam bait berikut :
" DEWI mengirim sebuah kelapa
tinggi pohonnya lima ribu depa
batu keliling tugasnya menjaga
pulau Lombok selama-lamanya
sangat ajaibnya pengambilan batu
ia berpindah ke sana ke situ
ngembalikannya secara tertentu
diterimakan di atas perahu
Langganan:
Postingan (Atom)
Beranda




